Gunakan Akal Pikiran, dan Hati !

Seorang teman berkata kepadaku, “Bukankah kita dikaruniai Allah akal, pikiran, dan hati? Itu semua yang membedakan kita dengan mahkluk lainnya..”. Perkataan temanku membuatku berfikir, apakah selama ini kita telah menggunakan karunia tersebut sesuai dengan fungsinya? atau malah kita hanya menggunakan salah satu dari karunia itu?

Gunakan Akal Pikiran, dan Hati

Manusia pernah khilaf, aku pribadi pernah khilaf. Toh, kalaupun tidak ada orang yang tahu kekhilafan kita, Allah Maha Tahu kekhilafan kita. Waktu memang tidak dapat diputar kembali, namun Allah masih mengijinkan kita untuk menggunakan akal, pikiran, dan hati kita dengan baik.

Sepasang kekasih sudah berkomitmen untuk menikah ketika mereka lulus kuliah dan mendapatkan kerja. Bukan waktu yang sebentar dalam berkomitmen, butuh waktu sekitar 8 tahun agar mimpi mereka berdua terwujud. Karena saat ini sepasang kekasih tersebut masih duduk dibangku SMA. Umur mereka sebaya, hubungan mereka dengan orangtua masing-masing berjalan dengan baik, visi dan misi mereka yang sama membuat mereka yakin ingin berkomitmen di usia yang masih terbilang dini.

Bukankah waktu itu terasa singkat jika kita menjalaninya dengan suka cita? Namun ingat, waktu juga akan terasa singkat karena kita sendiri tidak tahu kapan hidup kita berakhir didunia.

Ternyata waktu berkata lain, memasuki tahun ke-8 ternyata sang pria didiagnosa memiliki sebuah penyakit yang cukup ganas. Semua yang direncanakan 8 tahun yang lalu seakan telah sirna begitu saja. Dengan situasi ini sang wanita memaksa kedua orangtuanya untuk memperbolehkan menikahi sang pria yang dicintainya yang tinggal menyisakan waktu kurang lebih 2 bulan lagi. Apa yang terjadi selanjutnya ?

“Meskipun hanya 1 minggu, setelah dia meninggal maka dirimu akan berstatus janda..”, ucap dari salah satu anggota keluarga sang wanita.
“Gunakan AKAL PIKIRANmu, kita semua menyayangi dia..tapi kamu harus memikirkan dirimu kedepannya juga…jangan terburu-buru memgambil keputusan, harus dipikir secara matang..”

Setelah perdebatan yang panjang dengan keinginan sang wanita untuk menikahi sang pria, akhirnya sang wanita memutuskan untuk tidak jadi menikah. Mungkin secara emosi, kejadian ini tidak dapat diterima karena waktu menunggu yang terbilang cukup lama bagi mereka. Alhasil, karena keluarga dari sang pria sudah memiliki ikatan yang kuat dengan keluarga sang wanita, maka diputuskan sang wanita akan menikah dengan kakaknya sang pria. Tidak lama dari hasil keputusan keluarga tersebut, sang pria meninggal dunia. Dan keputusan untuk menikahi sang kakaknya dilangsungkan.

Saat pernikahan dilangsungkan, sang wanita tidak bisa lepas dari bayangan kekasihnya itu. Disaat pernikahan berlangsung, sang wanita terus membawa foto almarhum. Lebih jauh lagi, setelah berumah tangga, sang wanita memajang foto sang pria tersebut di kamarnya.

“Mas, kamu gpp kan aku pasang foto adikmu?”, tanya sang wanita kepada suaminya.
“Iyaa, gak apa-apa. Pasang saja fotonya, mungkin dia bahagia sekarang disana..”

Tidak lama kemudian, berkunjunglah keluarga besar baik pihak pria dan wanita ke rumah mereka.

“Loh, koq ada foto almarhum di kamarmu nak?”,
“Iya om…aku masih pajang, lagipula mas ku bilang gak apa-apa koq..”
“Nak, terkadang kita harus menggunakan HATI kita dalam mengambil sebuah keputusan. Meskipun suamimu bilang tidak apa-apa, kalau dirimu di posisi dia apa yang akan kamu rasakan?”

Ketika keluarga besar kembali berkunjung ke rumah mereka, foto almarhum sudah tidak dipajang kembali.

Sang wanita belajar, bahwa dalam mengambil keputusan hendaklah dipikir secara matang dengan menggunakan akal pikiran dan hati yang sehat. Keputusan yang terburu-buru malah dapat berdampak buruk sehingga seringkali timbul sebuah penyesalan. Apa yang terjadi jika sang wanita memaksa untuk tetap dinikahi dengan almarhum ? Atau apa yang terjadi jika sang wanita tak acuh terhadap perasaan suaminya sekarang? Jawabannya yaitu berdoa kepada Allah agar dapat menggunakan akal pikiran dan hati dengan baik.