Dapatkah Pendidikan Melepaskan Kemiskinan ?

poor Beberapa ahli sepakat bahwa tujuan akhir dari kesejahteraan sosial yaitu terpenuhinya berbagai kebutuhan ekonomi, sosial, kesehatan, serta kegiatan rekreasi untuk semua individu termasuk pendidikan yang merupakan salah satu indikator dari kesejahteraan sosial.

Pandangan masyarakat Indonesia atas pentingnya pendidikan masih kuat artinya sebagian besar masyarakat masih berpandangan bahwa pendidikan dapat memperkuat status sosial serta dapat mensejahterakan seseorang. Kita boleh melihat dengan Undang – Undang Pendidikan yang menetapkan APBN atau APBD minimal 20%.

Yang perlu digarisbawahi yaitu  kemiskinan dapat merubah perilaku seseorang yang  berpendidikan tinggi. Menurut saya, kemiskinan mendorong munculnya perilaku – perilaku yang tidak dapat kita duga. Seperti adanya tindak korupsi (Markus yang akhir – akhir ini sedang marak dibicarakan masyarakat Indonesia) bahkan hingga pembunuhan yang dilakukan oleh oknum / aparat penegak hukum yang seyogyanya mereka harusnya menegakkan keadilan.

Mungkin saya belum membaca artikel tentang motif terbesar dari tindak kejahatan yang ada di Indonesia, namun bisa saya simpulkan bahwa kemiskinan turut andil

didalam terjadinya beberapa tindak kejahatan. Kemiskinan yang dimaksud yaitu kemiskinan materil maupun kemiskinan moral.

Mari kita persingkat konteks ini lebih fokus terhadap kaitannya pendidikan dengan kemiskinan. Menurut saya, Pendidikan mendapat andil dalam memberantas kemiskinan jika :

  1. Hilangnya kesombongan intelektual (arogansi intellectual)
  2. Berani mengambil resiko (take a risk)

Pertama, arogansi intelektual merupakan sikap angkuh, sikap sombong yang dilakukan oleh kaum intelektual terhadap kehidupan bermasyarakat. Kesombongan intelektual mengakibatkan terhambatnya karya serta kreatifitas. Ironisnya intelektual yang disalahgunakan bukan mengurangi kemiskinan namun malah menambah kemiskinan di bangsa ini melalui “pemiskinan” yang dibentuk olehnya.

Kedua, berani mengambil resiko merupakan pilihan yang mudah namun sulit untuk dilakukan. Sering kita dengar istilah save play, namun apa pernah kita dengar bahwa Edison menemukan bohlam dalam 1 atau 2 kali percobaan ? Tentu tidak! Para pengukir sejarah berpikir out of the box, artinya meskipun kondisi atau situasi secara logika tidak dapat mendukung mereka untuk berkarya secara maksimal, tapi terbukti dengan berani mengambil resiko tersebut maka mereka menjadi orang – orang ternama yang hingga kini masih dikenal oleh umat manusia. Bangsa ini harus berani mengambil resiko, agar tidak menjadi bangsa pengemis yang hanya bisa meminta – minta.

Kesimpulan dari apa yang saya tulis yaitu saya melihat bahwa pendidikan dapat mendorong kemiskinan menjadi berkurang namun jika tidak diterapkan secara benar akibat penyakit intelektual maka tidak mustahil jika pendidikan malah membentuk “pemiskinan” yang lebih buruk lagi.

Semoga penyakit arogansi intelektual tidak terdapat pada diri kita, semoga kita termasuk orang – orang yang berani mengambil resiko untuk kebaikan, semoga kita dapat terus berkarya untuk bangsa ini dan semoga bangsa ini memiliki pemimpin yang selalu berjuang untuk melepaskan kemiskinan serta menghilangkan “pemiskinan” di tanah air tercinta ini. Amin..

Sumber : Berbagai sumber

Penulis : Achmad Tarich Wibowo (Erick)

Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial ‘06

“be creative worker be social worker”

One thought on “Dapatkah Pendidikan Melepaskan Kemiskinan ?

  1. saya sangat senang membaca artikel Erick Azof si Acakadul.
    menurut saya pendidikan di indonesia memang belum bisa mengatasi kemiskinan, hanya bisa mengurangi kemiskinan. program program pemerintah yang telah diterapkan dalam bentuk perlindungan sosial dirancang untuk mengurangi kemiskinan bukan untuk menghilangkan kemiskinan.
    adakah cara lain selain pendidikan dan perlindungan sosial oleh pemerintah yang dapat JUGA mengatasi kemiskinan?
    pengalaman saya ketika turun kejalan bersama anak jalanan menyatakan bahwa mereka betah dijalan karena uang yang mereka dapat. ada seorang anak yang mulai mngemis dari jam 5 sore, dalam waktu setengah jam ia telah mendapatkan 7 rbu rupiah…
    bagaimana mungkin mereka tidak betah dijalan?
    mnurut kakak, bagaimanakah cara terbaik untuk merubah mindset mereka agar mereka kembali menuntut ilmu dan tidak kembali ke jalan?
    salam hangat yono seorang peksos sekolah tinggi kesejahteraan sosial bandung?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s