Kemiskinan, Pemiskinan dan Kebudayaan Kemiskinan

Oleh : Reka Agni Maharani

zakat02Kemiskinan merupakan suatu permasalahan sosial yang sudah ada sejak dahulu kala sampai sekarang dan kemiskinan tidak akan pernah selesai sampai dunia benar-benar hancur. Kemiskinan memang merupakan akar dari suatu permasalahan sosial dan tidak dapat dihilangkan, tetapi masih bisa diminimalisir. Kemiskinan yang dapat diminimalisir tersebut adalah kemiskinan yang berdasarkan karena struktural yang menyebabkan pemiskinan. Faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya masalah kemiskinan menurut berbagai pendapat terdiri dari berbagai macam seperti yang paling utama adalah faktor ekonomi, kemudian adapula yang berpendapat adanya faktor-faktor lain seperti faktor struktural, kesejahteraan, budaya, sumber daya manusia, maupun dari alam. Dari faktor-faktor tersebut dapat terlihat adanya keterkaitan yang akhirnya menimbulkan suatu kemiskinan. Faktor ekonomi yang menjadi alasan utama terciptanya kemiskinan, menciptakan suatu struktur masyarakat miskin yang menjadikan suatu pemiskinan yang akhirnya menimbulkan suatu kebudayaan kemiskinan.

                Seperti contoh kasus di negara berkembang seperti di Indonesia, faktor ekonomi sangat berperan dalam menentukan kehidupan masyarakatnya. Dari hal itulah yang akhirnya melebar ke berbagai arah seperti adanya kemiskinan struktural menjadikan masyarakat sebagai pemiskinan yang kemudian menciptakan suatu budaya miskin. Sekarang-sekarang ini yang kita ketahui Indonesia sudah mulai menerapkan sistem kapitalisme dan industrialisasi, sehingga banyak masyarakat menengah bawah yang dipekerjakan menjadi buruh pabrik. Di sisi lain, pengaruh kapitalisme juga membuat masyarakat yang miskin menjadi semakin miskin, dan yang kaya menjadi semakin kaya. Hal itu terjadi dikarenakan adanya struktural yang terjadi di dalam masyarakat yang mengakibatkan masyarakat miskin tidak dapat keluar dari belenggu kemiskinan dikarenakan adanya batasan-batasan yang masih mereka temukan, salah satunya adalah masalah ekonomi dan bukan berarti mereka tidak ingin keluar dari belenggu kemiskinan yang mereka terima. Pemiskinan terjadi karena masyarakat tidak dapat memanfaatkan sumber-sumber pendapatan yang telah tersedia.

Maksud dari masyarakat tidak dapat memanfaatkan sumber-sumber pendapatan yang seharusnya sudah tersedia yaitu dikarenakan kurangnya sarana maupun prasarana yang mereka dapatkan. Seperti contoh, untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan menjadi buruh pabrik maupun buruh tani, diperlukan pencapaian pendidikan yang tinggi pula sedangkan biaya pendidikan sampai ke jenjang yang lebih tinggi dapat dikatakan cukup mahal. Mungkin bagi mereka yang mampu dan mempunyai uang yang cukup maupun yang lebih dari cukup dapat dengan mudah menyekolahkan anak mereka sampai dengan jenjang yang paling tinggi dan biasanya mereka juga dapat dengan mudah mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi pula. Dari hal tersebut sehingga dapat dilihat, masyarakat miskin mempunyai berbagai macam pandangan untuk kembali mengurungkan niat untuk menggapai pekerjaan yang lebih tinggi kedudukannya dan lebih layak seperti : mereka akhirnya berpikir uang yang mereka keluarkan untuk biaya sekolah anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi lebih baik mereka pergunakan untuk kebutuhan makan sehari-hari daripada untuk biaya sekolah karena untuk biaya makan dan hidup mereka sehari-hari pun kurang dari cukup. Adapula yang berpendapat bahwa dengan mereka menyekolahkan anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi, belum ada tolak ukur yang pasti apakah anak mereka pada akhirnya berhasil atau tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Selain itu adapula pandangan kalau memang dari “awalnya” mereka sudah miskin dan memang ditakdirkan untuk bekerja sebagai penggarap sawah ataupun sebagai buruh pabrik, maka sampai generasi bawah mereka pun begitu pula keadaannya.

                Dari pemikiran-pemikiran tersebut lah yang akhirnya membuat sebagian masyarakat miskin tetap “jalan di tempat” dan menganggap bahwa menjadi miskin sudah menjadi turun-temurun. Hal itu yang pada akhirnya membentuk suatu kebudayaan kemiskinan yang masih banyak dijumpai di Indonesia. Usaha yang harus dilakukan dalam mengubah pandangan masyarakat dari kebudayaan miskin yaitu dengan cara memberikan kesejahteraan kepada masyarakat tersebut baik dari segi pendidikan, keterampilan yang diberikan kepada mereka maupun sarana dan prasarana yang mereka butuhkan untuk membantu mereka dalam menjalankan hal tersebut sehingga mereka dapat berpikir kembali bahwa kemiskinan bukan berasal dari keadaan turun-temurun yang menjadikan mereka miskin, tetapi kemiskinan terjadi karena mereka tidak dapat berusaha untuk mencari suatu pemecahan permasalahan dari apa yang mereka hadapi.

 Penulis :

Reka Agni Maharani

Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial 2006

Universitas Indonesia

Sumber : http://eurekaisme.blogspot.com/2010/01/poverty-impoverishment-and-culture-of_2435.html

One thought on “Kemiskinan, Pemiskinan dan Kebudayaan Kemiskinan

  1. sebagian orang harus rela menjadi miskin dimanapun dia berada agara ada orang kaya yang bisa menatap dan berpikir tentang keadaan bersyukur, juga sebaliknya..
    semuanya ada timbal balik(secara nalar panjang)

    karena kitapun masih suka dibodohi (nalar revolusi)
    karena negara kita sudah bobrok (nalar normal)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s