Ilmu itu “mahal” atau Sarjana itu mahal ?

Bismillahirrahmanirrahim….

Alhamdulillah, tidak terasa sudah dekat waktuku menyelesaikan salah satu kewajibanku sebagai seorang mahasiswa di kampus, yaitu menyelesaikan studiku. Banyak pengalaman yang membuatku semakin matang menjadi individu yang akan lebih banyak terjun ke masyarakat. Tentunya bekal ilmu pengetahuan ini tidaklah mudah didapatkan, ada suka namun ada kalanya duka. Saat ini aku ingin menceritakan pengalamanku secara umum mengenai “SKRIPSI”.

Skripsi merupakan syarat kelulusan bagi sarjana reguler dikampusku. Iya, skripsi pula yang membuat mataku terbuka akan mahalnya pendidikan di negeri tercinta ini. Tidak terbayangkan jika seseorang yang memiliki keterbatasan dalam hal finansial, ataupun sosial mengalami proses penyelesaian skripsi ini. Berikut akan kujelaskan apa yang dimaksud dengan keterbatasa finansial dan keterbatasan sosial.

 imagePertama, keterbatasan finansial. Aku ingat saat awal aku pertama kali masuk kuliah. Sempat ada seorang ibu berkata, “Berapa biaya masuk universitas X” ?? dan rekannya menjawab, “Yaa..cukup mahal Ibu..banyak biaya-biaya yang harus dikeluarkan….”. Aku pun saat itu hanya terdiam, karena aku pikir di universitasku

akan banyak beasiswa-beasiswa yang akan membantu calon mahasiswa yang memiliki keterbatasan finansial. Oleh karenanya, aku berprinsip untuk tidak mengambil jatah beasiswa untuk mereka yang memiliki keterbatasan finansial. Namun…apa boleh dikata, ternyata biaya-biaya yang besar yang dimaksud yaitu biaya operasional selama aku kuliah…

Berikutnya, yang kedua yaitu keterbatasan sosial. Hal ini bukanlah kesalahan pihak universitas ataupun calon mahasiswa. Hal ini lumrah terjadi, yaitu keterbatasan seseorang dalam bersosial dengan teman-teman lainnya. Alhasil, untuk mendapatkan beasiswapun akan sangat sulit. Terkadang, aku kasihan kepada mereka yang memiliki kekurangan dalam hal ini. Sebenarnya bukan salah mereka tapi karena kondisi lingkungan sekitar yang membuat mereka tidak cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Yaa begitulah kenyataannya, bahwa untuk mendapatkan gelar sarjana dari sebuah universitas, tidak hanya modal finansial namun juga modal mentalitas.

Untuk melihat lebih dalam, berikut akan aku ceritakan sebagian pengalamanku dalam menyusun sebuah skripsi. Cerita ini bukan untuk pamer, namun untuk pembelajaran sampai sejauh mana sistem pendidikan kita mengakomodir orang-orang yang ingin belajar untuk menggapai cita-cita.

Biaya Penelitian SKRIPSI selama satu semester (6 bulan) dengan asumsi 12 x pertemuan dengan pembimbing

Penelitian :

1. Biaya ongkos penelitian : Kendaraan Umum (Pergi-Pulang) : Rp. 10.000,-

a. 12 x Rp. 10.000,- Rp. 120.000,-

Print :

1. Biaya print : Rp. 200/lembar

a. (6 x Rp. 200,- x 50 lembar) + (6 x Rp. 200,- x 100 lembar):Rp. 180.000,-

Fotokopi :

1. Draft AWAL SKRIPSI : 50 lembar /revisi (untuk minggu ke-1 hingga minggu ke-6)

a. 50 lembar x Rp.85 x 6minggu : Rp. 25.500,-

2. Draft SKRIPSI : 100 lembar / revisi (untuk minggu ke-6 hingga minggu ke-12)

a. 100 lembar x Rp.85 x 6minggu : Rp. 51.000,-

3. Draft AKHIR : Draft SKRIPSI x 4 penguji (untuk minggu terakhir)

a. Rp. 51.000,- x 4 x 2 (revisi) : Rp. 408.000,-

4. Jilid Hard Cover SKRIPSI : Harga Rp. 25.000,-/ hard cover

a. Rp. 25.000,- x 4 : Rp. 100.000,-

5. Buat CD (Compact Disc) Rp. 10.000,-

Administrasi :

1. Daftar untuk dapat ijazah Rp. 75.000,-

2. Kelengkapan bebas perpustakaan (beli quick film) Rp. 50.000,-

3. Foto + berkas-berkas Rp. 50.000,-

Total Biaya SKRIPSI Rp. 1.069.500,-

*Data diatas merupakan gambaran umum pengeluaran peneliti selama menyelesaikan SKRIPSI, dan merupakan biaya minimum.

Total biaya diatas bukanlah nominal yang sedikit bagi beberapa orang. Sehingga wajarlah jika ada orang bilang “SKRIPSI ITU MAHAL !” dan akupun termasuk orang yang setuju dengan pandangan tersebut. Biaya yang dicantumkan belum termasuk biaya untuk mencari tanda tangan dosen (sehingga harus pergi kemana dosen pergi), biaya hidup seperti kost, makan, dan sejenisnya, serta biaya penelitian untuk yang turun lapangan (kabarnya bisa mencapai Rp. 500.000,-)

Iya sudahlah, memang ilmu itu “mahal” .. dan memang benar-benar mahal🙂

Semoga mendapat pembelajaran dari sedikit pengalamanku..Wassallam..

6 thoughts on “Ilmu itu “mahal” atau Sarjana itu mahal ?

  1. Bener rik…belum lagi kalo di psiko, ada budaya reward untuk subjek penelitian…
    tapi sebenernya bisa ditekan biayanya, walaupun tetep ‘mahal’, dengan bikin ‘payung penelitian’ bareng temen. Cari tempat fotokopi, jilid, yang paling murah… manfaatkan sumberdaya yang ada, termasuk teman2 di kosan..hehehe
    dan tambah satu lagi…banyakin ikhlas…semua jadi terasa lebih ‘ringan’… hehehhee

    nice one rik!!

  2. Hmm…. Skripsi ya Mas,,, kalo di saya nanti namanya KIA(Karya Ilmiah Akhir), dan Insyaallah akan saya jalani setelah melewati 3 semester lagi,.,,😦

    Begitulah Mas,,, biaya masuk awal mahal, biaya per semester mahal, dan biaya operasional perkuliahan tidak sedikit pula, belum biaya hidup, biaya bermain, kebutuhan sosialisasi dengan teman-teman, dll,,,,, Serentetan itu akan kita wajib penuhi dengan seiring jalannya perkuliahan,,,,

    Tetap berjuang,,, itulah motoku Mas,,, Tak peduli besok harus bayar kebutuhan kuliah dengan apa,,, yang penting hari ini usaha maksimal, sambil membuat planning untuk hari esok yang lebih baik dari kemarin dan hari ini,,,,

    Salam semangat selalu
    Dari sahabat jauhmu di Bandung,
    MJS, STKS Bandung

    • Hehe…itu sekedar curcol vi…yaa tapi skr ini setelah dipikir-pikir setimpal koq..pengorbanan untuk mendapatkan ilmu selain rasa cape kita juga terkadang materi kita..yaa tinggal vi atur2 aja pengeluarannya spy ga ngeberatin vi🙂

  3. setuju…saya sendiri lagi pusing biaya skripsi mencapai 5,5 juta…ane mahasiswa sains gan, jadi alat n bahannya mahal banget. untuk pemeliharaan hewan coba aja 2 juta sendiri..belum lainnya kaya alkohol n bahan kimia lain.. dan sebenernya kesulitannya bukan cuma dari situ tapi juga dari kesempatan2. alias temen ane ada yang gagal skripsi karena dosen2 sudah pada penuh n g mau mbimbing karena batas jumlah bimbingannya udah penuh, kasian banget padahal dia pinter n sbnere dy juga mampu dari segi finansial. … so… mo nyari beasiswa ane ngepas gan, jadi repot, ip bagus sih tapi masih kalah aja ama temen2 ane yg cumlaude2, dari keuangan juga ane pas2an aja, dibilang mampu banget nggak, tapi g mampu juga enggak, jadi kalah saing. hehe..semangat bro..

    • Woww…mahal amat..
      Iya, harus diperhitungkan matang2 pengeluaran kita..
      Apalagi skr, tuntutan nya akan lebih tinggi…dosen pembimbing pasti ga mau penelitian2 yang sudah sering dilakukan..alhasil, biaya akan semakin membengkak krn harus ekstra penelitianny..😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s