Renungan Seorang Pemuda

“Bukankah sedekah itu mudah ? Senyumlah, maka kamu telah bersedekah..”

Kalimat tersebut pernah sesekali kita dengar disaat kita duduk mendengarkan khotbah sholat Jumat. Tidak sedikit dari kaum ulama, hingga anak-anak moeda jaman sekarangpun paham dan sering mengucapkan kalimat tersebut sebagai sebuah nasehat kecil bagi temannya. Hal itu salah satu awal dari cerita panjang jalan hidup seorang pemuda berumur 22 tahun ini. Dia bukanlah seorang yang lahir dari Bapak atau Ibu keluarga ulama namun ia hidup dari ajaran-ajaran kebaikan agama. Alhamdulillah, agama Islam.

Perjalanan pemuda tersebut tidaklah singkat, mungkin tidak sesingkat pengalaman teman-temannya yang lain namun tidak pula lama seperti pengalaman teman-temannya yang lain. Pemuda tersebut suka sekali mempelajari arti dan makna kehidupan, mungkin inilah apa yang disebut dengan anak yang lahir diantara kakaknya dan adikknya. Dia dapat belajar tauladan dari kakaknya namun juga ia dituntut agar dapat bijaksana mengajarkan adiknya. Atau sebaliknya, dia dapat melihat keburukan kakaknya dan dapat pula lebih manja dibandingkan adiknya.

Hingga suatu hari, dimana keputusan hidupnya sebentar lagi ditentukan. Pemuda tersebut terus memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan. Ia melihat sekelilingnya, ia melihat kakaknya, ia melihat adiknya, dan ia melihat lingkungan sekitar hidupnya. Alhasil, ia memutuskan untuk menjadi seorang pemuda dengan profesi yang menurutnya mulia di mata Tuhan YME. yaitu Amil Zakat.

“Bagaimana lembaga zakat bisa maju jika orang-orang yang mengisinya ialah orang-orang sisa yang ditolak lamar kerja baik di bank, di perusahaan, dan sejenisnya? Oleh karena itu kita butuh pemuda-pemuda yang berjiwa kreatif, energik, dan penuh inovatif..”

Kalimat diatas merupakan penggalan kalimat dari diskusi antara seorang pemuda dengan pengelola lembaga zakat di tanah air Indonesia ini. Pemuda itu pun berfikir dan membayangkan jika potensi zakat yang notabene nya merupakan kewajiban umat muslim jika dijalankan secara baik dan benar serta dikelola dan disalurkan secara tepat dan bertanggung jawab makan pengentasan kemiskinan pun dapat berjalan dengan cepat. transparansi menjadi salah satu kunci lembaga ini agar dapat exist ditengah krisis kepercayaan ini.

Potensinya mencapai 20 Trilliun Rupiah !

Begitulah jumlah nominal yang sebenarnya tidak seberapa bagi beberapa pihak namun sangat berarti bagi beberapa pihak lainnya. Jumlah tersebut merupakan bukti sesungguhnya bangsa yang memiliki mayoritas penduduk muslim ini dapat berusaha sendiri tanpa meminta-minta atau bahkan “mengemis” kepada bangsa lain untuk membiayai hidupnya sendiri. Bahkan jika dijalankan sesuai dengan aturan serta penggunaannya, maka zakat dapat mengurangi kesenjangan hidup materil antara si kaya dan si miskin.

“Tidaklah layak orang tersebut mengkritik pemerintah, bangsanya, negaranya, jika orang tersebut belum pernah mengabdi kepada bangsanya…”

Pemuda tersebut jadi teringat dengan kata kaum ulama AA Gym, “Mulailah 3M, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil2, Mulai dari sekarang juga..”. Semoga usaha pemuda tersebut tidak sia-sia..Amin..

3 thoughts on “Renungan Seorang Pemuda

  1. Tahu nggak? orang-orang kayak Erick ini yang Insya Allah akan menjadi salah satu orang besar untuk kebangkitan ISLAM di Indonesia. Kita liat saja nanti!

    BTW, gantengan yang belakang rik (canda! lagian ngapain sih moto di depan poster segede gaban gitu? ^^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s