Catatanku : Welcome to The Adventure Island

Dormitory (House)

Bismillahirahmanirrahim,

Sudah genap 2 hari Aku tinggal di P. Bintan. Bersama Pak Nana yang sama-sama berasal dari Jakarta. First impression yang Aku rasakan sesaat sampai di Bintan tepatnya di Lagoi yaitu terkesima. Tidak seperti yang saya bayangkan ternyata fasilitas-fasilitas yang berada di Lagoi terbilang lengkap.

Sebelum Aku tiba di sini, Aku berfikir bahwa etnis mayoritas di Pulau ini asli orang Bintan. Kenyataannya, banyak masyarakat dari luar Bintan telah bermukim lama di Pulau ini. Ada yang berasal dari Jawa, Medan, Padang, dan masih banyak lagi. Walaupun begitu, pada umumnya masyarakat asli Bintan tetap ada keberadaannya. Ciri khasnya gampang ditebak, yaitu berbahasa dengan cengkok Melayu. Sebagian dari mereka juga beretnis Tiong-hoa dengan ciri khasnya yaitu berprofesi sebagai pedagang (yang punya toko).Ditempat Aku bekerja terdapat pula beberapa orang dari luar Indonesia, sebagian besar mereka berasal dari Singapura (etnis India), dan sebagian kecil bule (panggilan orang Indonesia untuk orang Barat).

Pada hari pertama, aku mencoba explore mengenai kebutuhan hidup ditempat Aku akan tinggal sekarang (Lagoi, Bintan). Seperti yang kudengar dari beberapa orang yang dulunya pernah tinggal di Bintan (Bintan Resort), kebutuhan hidup terutama pangan cukup mahal. Aku pun coba menanyakan harga kebutuhan pokok setibanya Aku di Bintan. Ooohh, ternyata benar biayanya cukup mahal. Bayangkan saja, menu makanan nasi dan telor ceplok dihargai dengan Rp. 10.000,-. Kalau Aku setiap hari beli makanan memakai uang pribadi, bisa-bisa Aku bangkrut sendiri.

Baiklah, mari kita tinggalkan sejenak mengenai kisah makanan nasi dan telor ceplok tersebut. Aku ingin menceritakan tentang pengalaman 2 hari Aku selama tinggal di Bintan. Pada hari pertama Aku lebih disibukkan dengan urusan administratif Aku. Aku bekerja di bagian Community Development atau yang biasa disebut dengan program sosialnya perusahaan. Job desk utama Aku yaitu memastikan program-program sosial PT. Bintan Cakrawala Resort (tempat Aku bekerja) berjalan dengan baik. Yaa minimal berjalan sesuai rencana.  Hari pertama juga merupakan hari dimana Aku dibuat takjub dengan perkembangan yang ada di Lagoi. Semua fasilitas cukup lengkap dari SPA, Kafe, Bank (hanya satu Bank Swasta), kantin karyawan, tempat tinggal, fasilitas olahraga sepakbola, bola basket, badminton, tempat ibadah, dan masih banyak lagi. Aku menyebut tempat tinggalku sebagai Kota Mandiri.

Keesokan harinya, Aku dan Pak Nana beserta atasanku Pak Machsun pergi keluar Lagoi Resort. Akupun berkesempatan mengunjungi SMP N 12 Bintan. Disana Aku bertemu dengan guru-guru BK sekolah SMP N se-Bintan untuk merencanakan agenda kegiatan workshop yang akan diadakan tanggal 18 Januari 2010. Sebuah agenda kegiatan yang berjalan atas kerjasama Dispora Bintan, MGBK (persatuan guru BK se-Bintan), serta BRC (Bintan Resort Cakrawala). Agenda ini bertujuan untuk melakukan improvisasi melalui sesi sharing dan workshop dengan praktisi konseling yang berasal dari Singapura.

SMP N 12 Bintan

Saat di SMP N 12, Aku merasa bertemu dengan Ibu Mus (guru sekolah di film LASKAR PELANGI). Logat Melayu yang halus serta semangat yang menggebu-gebu terlihat dari aura yang dipancarkan guru-guru tersebut. Akupun juga sempat melihat aktivitas baik belajar dikelas maupun kegiatan olahraga yang berada di SMP N 12. Tidak lama kemudian, Aku mencoba membandingkan dengan sekolah yang berasal dari Jakarta. Hasilnya tidak jauh beda, bahkan sekolah di SMP N 12 ini memmiliki lapangan yang cukup luas. Tidak hanya itu, para guru pun sebagian sudah terbiasa menggunakan laptop ataupun LCD. Hal ini dimungkinkan karena sebagian guru berasal dari Pulau Jawa dan merupakan lulusan dari Universitas yang cukup berprestasi. Dalam benak Aku, Aku merasa masih sangat kecil karena masih banyak yang pahlawan-pahlawan kita yang sedang berjuang memperjuangkan nasib masyarakat yang belum dapat sepenuhnya mendapatkan pendidikan secara layak.

Setelah Aku berkunjung ke SMP N 12, perjalanan selanjutnya Aku pergi ke Tanjung Uban, yaitu kota terbesar kedua setelah Tanjung Pinang yang berada di Pulau Bintan. Aku merasakan perjalananku seperti menyusuri Anyer (pantai yang berada di Pulau Jawa). Desir pantai, angin laut, serta jalan yang panjang dan pastinya tidak macet aku lalui selama perjalananku ke Tanjung Uban. Di Tanjung Uban, Aku menemukan masyarakat yang lebih ramai dibandingkan di tempat Aku tinggal. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, Aku mengunjungi sebuah swalayan yang menjual berbagai macam keperluan selama Aku tinggal. Harganya ? Tidak jauh beda bahkan hampir sama dengan mini market yang sering Aku temukan di Jakarta.

Cukup panjang ceritaku, cukup banyak pengalaman yang Aku dapatkan selama 2 hari ini dan semua begitu menyenangkan (Insya Allah seterusnya). Rasa penasaranku terhadap Pulau ini pun semakin membesar. Sehingga Aku pun menyebut Pulau Bintan ini dengan sebutan The Adventure Island.

2 Des 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s