Amanah Yang Terlupakan

Oleh : Arsetyanita Puspitasari

“Ty, doain aku yah…besok aku mau sidang skripsi nih!”, seorang sahabat meminta doa sembari memegang erat tangan saya disalah satu sudut kampus. Sayapun mengiyakan permintaannya,“iya, nanti didoain biar lancar dan dapet nilai yang bagus ya”. Mendengar jawaban saya, sahabat saya tersenyum cantik sambil mengucapkan terimakasih lalu beranjak pergi.

Tiga hari kemudian, sahabat yang meminta doa kepada saya mengirimkan sms:“Teman-teman, makasih ya buat doa dan dukungannya. Alhamdullilah, sidang skripsi bisa berjalan dengan lancar dan akhirnya saya dapet gelar S.Sos. hehe…Sekali lagi terimakasih, semoga Allah membalas kebaikan kalian J “. SMS ucapan terimakasih yang manis. Sewajarnya, sebagai seorang sahabat, saya akan senang mendengar berita tersebut, mengucapkan selamat, lalu mengatakan “iya, sama-sama” atau kalimat lain yang pada intinya menyambut baik ucapan terimakasihnya (yah, standart orang membalas ucapan terimakasih pada umumnya). Saya memang senang dengan beritanya, namun, kali ini berbeda, muncul juga perasaan bersalah ketika membaca sms tersebut. Saya baru ingat, kalo saya bahkan belum benar-benar mendoakan dia sejak ia memintanya tiga hari yang lalu.  Ya, semestinya saya tidak pantas mendapatkan rasa terimakasih itu!.

Moment ini pun memancing memori akan janji-jani saya untuk mendoakan orang lain ketika berbincang secara langsung ataupun hanya sekedar melalui sms dan chatting via internet. Permintaan-permintaan doa yang terdengar sederhana dan selintas, yang biasanya terselip ditengah atau di akhir perbincangan, seperti; “ty, doain ya biar presentasinya lancar”, “ty, doain dong biar kerjaan beres”, atau bahkan “ty, doain gw nih biar diet nya lancar”, yang selalu saya jawab dengan entengnya, “iya, nanti didoain”, apakah benar-benar sudah saya realisasikan dengan menyelipkan doa-doa  tersebut setelah selesai shalat atau dengan sekedar meluangkan waktu sesaat untuk mendoakan mereka?.Ternyata, hanya beberapa yang benar-benar saya selipkan dalam doa saya. Selebihnya, saya sering kali lupa untuk merealisasikannya. Dan yang semakin membuat saya merasa malu pada diri sendiri, sepertinya saya mudah lupa mendoakan mereka karena tanpa sadar saya menganggap doa tersebut tidak lah begitu penting atau bahkan sekedar formalitas untuk menyenangkan lawan bicara. Astagfirullah L.

Sebenarnya, tidak seharusnya saya memilah-milah mana doa yang penting dan tidak penting dari orang lain. Bisa saja yang menurut saya penting, tapi menurut sahabat atau teman saya tidak penting ataupun sebaliknya. Ini karena memang setiap manusia memiliki prioritas hidup yang berbeda dan kemampuan yang berbeda-beda pula dalam menyikapi setiap persoalan.

Bila saya menempatkan diri saya sebagai orang yang minta didoakan, secara jujur, saya memang benar-benar ingin didoakan atau dengan kata lain, saya ingin doa saya dianggap penting dan diingat. Tak jarang, saya juga mengirimkan sms ke beberapa teman atau sahabat ketika ada hal tertentu dan mohon didoakan. Saya menitipkannya kepada teman-teman yang saya percayai untuk mendoakan saya. Sama halnya dengan orang lain yang meminta didoakan oleh kita, mereka pastipun sudah memilih orang-orang yang dipercayainya. Jadi, bisa dibilang, kita adalah orang-orang “terpilih” untuk mereka.

Saya memang egois dan tidak adil kalau sampai tidak merealisasikan untuk mendoakan mereka. Sesederhana apapun doa tersebut, permintaan untuk mendoakan adalah sebuah amanah. Amanah yang dipercayakan oleh seseorang kepada kita.

Sejak saat itu, saya berjanji akan mulai merealisasikan amanah-amanah yang kedengarannya sederhana dan selintas lalu itu. Saya mencoba mengingat-ngingat pernah berjanji akan mendoakan siapa dan apa saja. Bismillah, semoga belum terlambat. Semoga doa saya masih bermanfaat dan belum kadaluarsa buat para sahabat yang sudah meminta doa sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Saya juga mencoba melakukan beberapa langkah strategis agar tidak sampai kelupaan untuk mendoakan teman atau kerabat lagi. Langkah strategis tersebut misalnya,  bila takut lupa, amanah berupa titipan doa bisa dicatat di note kecil atau bahkan di hand phone. Kalo gak bawa note dan gak mau kelupaan, setelah orang tersebut meminta, saat itu juga saya luangkan waktu sejenak untuk mendoakannya. Berdoa kan bisa dimana saja. Kalaupun nanti masih ingat ketika shalat, tidak masalah untuk kembali mendoakan. Malah lebih bagus.

Kalo dipikir-pikir, memang tidak ada ruginya mendoakan orang lain apabila doa tersebut memang untuk kebaikan. Gak perlu ngeluarin uang dan banyak tenaga, cukup bermodalkan lisan, ketulusan dan yang pasti percaya dan yakin sama Allah (ini yang terpenting). Kalaupun males ngucapinnya, bisa langsung berdoa dalam hati kok.  Duh, kalo ngebantu orang lain yang gak perlu ngeluarin banyak tenaga dan materi aja saya gak lakuin, gimana dengan hal lain yang lebih besar! (Padahal ngakunya sahabat L ).

Ya Allah, jaga saya untuk selalu dapat menjadi orang yang tidak hanya mudah berjanji namun juga pandai menepati janji. Siapa tau kelak, saya atau kita, akan menjadi pemimpin yang diberikan banyak amanah.  Jadi  ya, sama-sama latihan dari sekarang dan dari hal yang terkecil yuk J.

Dari Abu Ad-Darda, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam besabda :

“Tidak ada seorang muslimpun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata “Dan Bagimu juga kebaikan yang sama”. (HR. Muslim no. 4912).

Terimakasih,  Semoga bermanfaat🙂

One thought on “Amanah Yang Terlupakan

  1. Kalau ada yang minta doa, saya langsung doain saat itu juga. Biar ga kelupaan. Tapi kalau dicatat di note, boleh juga idenya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s