Alat Tangkap Tradisional “Bubu” di Bintan

Kampung Nelayan Senggiling

Pemandangan pantai pasir panjang di kampung Senggiling, Bintan membuatku terpukau akan keindahannya. Memasuki bulan April, hampir seluruh nelayan di pulau ini pergi melaut untuk mencari ikan. Laut yang tenang memudahkan para nelayan untuk berlayar dengan menggunakan rumah atau biasa yang disebut dengan ‘Kelong(baca tulisan mengenai ‘Kelong’).

Ini salah satu pengalaman pertamaku untuk melihat langsung cara kerja para nelayan saat mereka akan melaut. Mereka mempersiapkan bekal makanan serta alat tangkap secara berkelompok agar lebih banyak dalam menangkap hasil tangkapannya. Banyak alat tangkap yang kita kenal seperti jaring, pancing, ataupun alat tangkap ikan yang dilarang oleh pemerintah karena dapat merusak biota laut seperti pukat harimau, bom peledak, serta racun ikan.

Karena dari lautlah mereka mencari nafkah…”

Syukurnya nelayan yang tinggal di kampung Senggiling ini sadar akan pentingnya pelestarian lingkungan perairan laut karena disinilah mereka mencari nafkah sehingga mereka harus dapat menjaga keberlangsungannya. Sayangnya, masih terdapat beberapa pihak yang tidak memperdulikan usaha menjaga pelestarian biota laut ini. Umumnya masyarakat yang hanya mencari keuntungan (pendatang dari luar daerah) maupun nelayan dari negara tetangga yang menggunakan alat tangkap yang dilarang oleh pemerintah. Sampai sekarangpun masih dapat kita temui disekitar perairan Bintan.

Alat tangkap ‘Bubu’, cukup asing terdengar ditelingaku. Awalnya Aku tidak begitu tertarik untuk melihat alat tangkap ini, namun saat Aku berkunjung ke kampung nelayan ini, Aku mencari tahu lebih dalam mengenai ‘Bubu’ ini.

Alhasil Aku melihat proses pembuatan ‘Bubu’ beserta hasilnya. Cukup unik bentuknya, yaitu besar seperti keranjang yang terdiri dari rajutan kawat, kerangkanya dibentuk dari besi dan bambu dengan besarnya hampir 1 meter lebih. Hal ini bertujuan agar dapat banyak ikan yang masuk kedalam ‘Bubu’ tersebut. Proses pembuatannya cukup memakan waktu yang lama, yaitu sekitar satu minggu untuk satu ‘Bubu’. Diperkirakan satu ‘Bubu’ seharga 150 ribu rupiah. Untuk pembuat alat tangkap tradisional ini, tidak semua nelayan dapat membuatnya. Oleh karena itu, disini terdapat pula jasa pembuatan ‘Bubu’. Tentunya dengan harga yang lebih tinggi jika ingin memilikinya.

Alat tangkap Bubu

Umumnya nelayan di Bintan memiliki beberapa ‘Bubu’, idealnya setiap nelayan memiliki 10-15 ‘Bubu’. Hasilnya ? Jangan ditanya, keuntungan hasil dari alat tangkap ini cukup luar biasa. Jika nelayan dapat menangkap ikan dalam jumlah yang banyak, mereka dapat menjual tangkapan ikan hingga mencapai 40kg atau dapat bernilai hingga jutaan rupiah. Luar biasa bukan ? Alat tangkap tradisional ini masih menjadi andalan para nelayan dalam mencari ikan merah, ikan kuning, kerapu dan ikan jebung termasuk kepiting totol ataupun kerang (keong) dan lobster.

Kemudian bagaimana cara menggunakan ‘Bubu’ ini ? dan apakah ‘Bubu’ dapat dipakai secara terus menerus ? Cara penggunaannya cukup sederhana. Pertama, nelayan harus mencari tempat yang tepat untuk dapat menaruh alat tangkap ini. Tempat tepat yang dimaksud yaitu mereka harus mencari tempat batu karang yang umumnya sebagai tempat dimana ikan biasa berkumpul. Alat tangkap ini dibiarkan ditaruh di atas batu karang tersebut dalam beberapa waktu agar ikan-ikan tersebut dapat terjebak di dalam ‘Bubu’ ini. Semakin baik lokasi penangkapannya (Batu karang), maka lebih besar kemungkinan para nelayan akan mendapatkan ikan.

Alat Tangkap Bubu

Bubu’ tidak bisa dipakai dalam jangka waktu yang lama dikarenakan bahan dasar ‘Bubu’ yang tidak akan kuat jika terkena ombak laut dan kerasnya batu karang. Menurut pengalaman nelayan yang biasa menggunakan alat tangkap ini, biasanya ‘Bubu’ ini hanya kuat untuk 3 kali mengangkat ikan. Setelah itu, ‘Bubu’ akan rusak dan dibuang oleh nelayan.

Sesungguhnya masih banyak cara dalam menangkap ikan, namun terkadang sifat dasar manusia yang tamak dan ingin mencapai segala sesuatu serba cepat / instant malah dapat merugikan mahkluk hidup lainnya. Kelak saat cucu kita menggantikan kita, mereka masih mengenal kekayaan biota laut bangsa ini dan rasa bangga yang tinggi kepada kita semua karena telah menjaga dan melestarikannya.
Nb : alat tangkap”Bubu” termasuk alat tangkap yang merusak karang, oleh karena itu penggunannya saat ini berusaha dikurangi. Namun sayang belum seluruh nelayan tradisional menyadari hal tersebut.

7 thoughts on “Alat Tangkap Tradisional “Bubu” di Bintan

  1. Pingback: Wisata Desa Teluk Sebong di Pulau Bintan #2 | Erick Azof

  2. laiya payah,terus tangkap pake apa? pukat? matalo…faktanya nelayan tuh mensinkronisasikan pemasangan bubu sama terumbu karang biar bubunya terkamuflase

    • Silahkan googling mas, banyak alat tangkap alternatif lainnya..Tinggal bagaimana bisa memberikan pemahaman kpd nelayan yg memang sudah terbiasa menggunakan alat tangkap seperti bubu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s