Melayu yang Takkan Layu

Oleh: Wan Tarhusin

Dalam Kamus Bahasa Indonesia Depdikbud R.I tahun 1998, disebutkan bahwa perkataan ‘layu’ termasuk kata sifat yang artinya ‘tidak segar (kuncup)’. Diibaratkan sebatang pohon yang daunnya layu disebabkan panas matahari yang terik, termasuk juga tanaman bunga di halaman rumah, jika disiram dengan air setiap petang tentu layunya dapat diatasi, sehingga ia dapat menjadi segar kembali.

Perkataan ‘me-layu’, jika kita katakan ‘bunga itu me-layu’, berarti ia ‘melayukan diri (kuncup)’, suatu keadaan yang sifatnya sementara, dan begitu sang alam menurunkan hujan, ia menghijaukan diri dan segar kelihatannya.

Me-layukan diri bagi orang Melayu, menunjukkan perilaku menahan diri dari godaan-godaan, tidak banyak bicara, tetapi dia tetap berkarya guna memenuhi keperluan hidupnya; dan dalam keadaan mendesak, barulah terlihat ke-Melayuannya.

Banyak peribahasa Melayu yang selalu dipakai dalam ungkapan-ungkapan, seperti : “Dianjak layu anggur mati.”

Artinya, seseorang yang telah menetapkan perkataannya, yang tidak dapat diubah lagi. Dan banyak lagi peribahasa yang mengungkapkan sesuatu yang baik dan tidak baik, atau sesuatu yang benar atau yang tidak benar, umpamanya :

“Seperti dianjak layu bubut mati,” yang maksudnya suatu kebenaran yang tidak bisa diubah lagi, harus dipakai terus.

Me-layukan diri bagi orang Melayu, merupakan suatu sifat ke-Melayuan yang tidak mau menonjolkan diri, walaupun dia sudah banyak menumpukkan ilmunya di kepala dan menjadi orang pintar, tapi dia tetap me-layukan dirinya dan tidak sombong, dengan menggunakan ilmu padi yang selalu merundukkan, tidak melongak ke atas.
Resam Melayu, selalu menghindari kekerasan dan perilaku yang merusak keadaan serta moral. Resam Melayu ialah pencinta alam.

Pada zaman Kesultanan Riau-Lingga di Kepulauan Riau ditempatkan para Datuk, yang merupakan perpanjangan tangan di dalam pemerintahan; dimana hutan, sungai, tanah ulayat, sangat diperhatikan.

Apabila terdapat kerusakan alam, maka yang merusak lingkungan akan diberi hukuman sesuai dengan adat tempatan.
Perkataan “malu” yang sehari-hari kita dengar, bagi orang Melayu sangat sensitif, dan bisa tersinggung dengan teguran, tanpa tahu keadaan yang sebenarnya. Misalnya, ada seorang teman yang menegur dengan bahasa Melayunya yang lugu :

“Ei, awak nak ke mane merayap-merayap dimalam bute ni?”
Orang yang mendengar itu tentu merasa malu, padahal yang bersangkutan hendak ke rumah sakit melihat cucunya yang diopname.
Inilah sifat orang Melayu, selalu menjaga “maruah.” Sebab apabila terjadi sesuatu yang membawa ‘aib bagi muka orang-tua disebabkan perilaku anak ataupun saudara dekat, maka malu yang sangat hina itu sangat ditakuti.

Bayangkan saja bila dikatakan : “Anak awak ‘ni tak tahu malu. Setiap saya lihat berpeluk terus dengan anak laki-laki itu, begonceng dengan ‘honda’ tengah-tengah hari.” Bagaimana perasaan orang-tua yang mendengarnya, apakah tidak malu?
Haramkah menurut agama Islam?

Di daerah Kepulauan Riau, banyak dijumpai ‘daun pemalu’ atau ‘daun semalu’ yang hidupnya di celah-celah rumput, yang akarnya berduri, dan jika kita sentuh sedikit dengan jari, ia langsung menguncup. Inilah yang dikatakan “malu.”

Tapi setelah beberapa jam, ia akan mengembang dan mekar kembali. Daun pemalu dapat diibaratkan sebagai simbol bagi orang Melayu, yang selalu menjaga maruahnya, takut tercela nama keluarga.

Budaya Melayu sangat terbuka dan toleransi dengan hakekat demokrasi. Masyarakat Melayu menjunjung tinggi azas demokrasi, karena mereka tahu bahwa demokrasi itu bukan untuk mengikis yang kecil. Oleh karena itu, orang Melayu lebih mengutamakan kualitas hidup dari pada taraf hidup.

Kelenturan Bahasa Melayu terlihat pada struktur Bahasa Melayu yang merupakan bahasa yang digunakan secara luas di seluruh tanah air, baik sebagai bahasa perantara dalam perdagangan, atau sebagai alat komunikasi antar-daerah di seluruh Nusantara.

Bahasa Melayu Kepulauan Riau tidak saja digolongkan sebagai bahasa lingua franca, akan tetapi secara luas dipergunakan oleh para cendikiawan Indonesia di masa lalu, hingga memperkuat serta dipilih sebagai Bahasa Nasional.

Salah satu pilar utama yang menopang Kebudayaan Nasional adalah Kebudayaan Melayu (Harsya W. Bachtiar).
Konsep sistem penilaian dalam ‘Kepemimpinan Melayu’ adalah :
Pertama : ‘Beragama Islam’, karena orang yang melaksanakan sistem nilai agama dianggap orang yang patut-patut (orang baik).

Sedangkan konsep kedua adalah ‘Adat- istiadat Melayu’. Resam Melayu mengatur hubungan antara manusia dan alam, serta sangsi terhadap pelanggaran yang terjadi.

Maka kepemimpinan yang baik adalah, Kepala/Pemuka Adat adalah orang yang mengetahui dan faham tentang adapt-istiadat resam Melayu, baik isi maupun kesejahteraannya.

Konsep ketiga adalah ‘Tradisi’. Orang yang faham tentang tradisi dianggap orang yang berilmu, dan orang yang berilmu itu dimungkinkan untuk menjadi pemimpin dalam alam budaya Melayu yang berbudi luhur serta berakhlak mulia.

Di dunia Melayu kita mengenal simpai-simpai dengan ciri khas Melayu, yaitu : “Berbahasa Melayu,” “Beradat-istiadat Melayu, dan “Beragama Islam.”

Dengan masuknya agama Islam ke Indonesia, Budaya Melayu mengamalkan ungkapan-ungkapan, seperti : “Man ‘arafa-nafsahu, faqad rabbahu.” (Siapa mengenal dirinya, maka kenal dia kepada Tuhan-Nya.” (Raja Ali Haji).

Daun pemalu jangan disentuh
Jika disentuh terkena duri
Orang Melayu enggan bergaduh
Kalau bergaduh menghindar diri.***

Sumber : http://tanjungpinangpos.co.id/2011/05/melayu-yang-takkan-layu/

 

9 thoughts on “Melayu yang Takkan Layu

  1. wow, suka deh ma postingannya.
    jdi ingat jaman kuliah, punya banyak teman dri sumatra sana dan sya berani menyimpulkan kebanyakan pembawaan mereka ramah dan ceria. setidaknya teman2 saya.

    thank dah menjejak di blog awak, salam kenal jugo.😀

    • hehehe, iya aku prnah dgr bahwa dlu kerajaan dr jawa dan melayu saling berperang. Nah sebutan Melayu itu berasal dari Jawa, yang arti berlari / lari (penakut). Tapi entahlah itu benar atau tidak ;p

  2. Sungguh terkesan dengan tulisan ini. tapi masih ragu dengan makna ” MELAYU “.atau dalam arti luas ” SUKU MELAYU “. Tolong Anda beri penjelasan dan sumber artikel tersebut. Sebab (maaf) Saya keturunan seorang dari Bagan Datuk , perak malaysia yang kembali mengkaji dan analisa “suku melayu”. Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s