Memampukan Diri

Jakarta, 6/9/2011. Pukul 7:11 WIB.

Oleh : Arsetyanita Puspitasari

Memampukan diri adalah salah satu cerita hikmah yang saya dapatkan saat menjalani bulan ramadhan kemarin. Disuatu siang yang terik di bulan ramadhan, saya tengah menjadi penumpang salah satu bus Trans Jakarta jurusan Blok M- Kota. Siang yang terik itu cukup membuat saya mengeluh ketika tidak mendapatkan tempat duduk di dalam bus. Saya sempat membatin, “ah , andai saja si mas itu mau memberikan tempat duduk untuk saya”. Tapi hanya sebatas keinginan, pada kenyataannya saya tetap berdiri berdesakan persis di depan pintu masuk bus.

image

Bus pun berhenti mengangkut dan menurunkan penumpang dari satu halte ke halte yang lain. Hingga sampailah pada halte bundaran senayan, naiklah seorang lelaki yang cukup menarik perhatian saya. Kalau boleh menebak, umurnya mungkin sekitar 30an, mengenakan kaos merah putih yang bertuliskan slogan suatu acara dari salah satu produk suplemen kesehatan. Ia menggunakan celana bahan warna hitam yang sudah agak memudar dan alas kaki berupa sendal jepit. Namun, bukan hal-hal itu yang membuat saya memperhatikan lelaki tersebut, tetapi karena secara fisik lelaki tersebut agak unik.

Tangannya mengkrucut dan hanya terdapat dua jari di ujung tangan kanannya

Lelaki itu berdiri tepat di depan saya, menggenggam salah satu pegangan di bus agar tidak jatuh dengan menggunakan tangan kanan nya yang jauh lebih kecil ukurannnya dibanding tangan kirinya. Tangannya mengkrucut dan hanya terdapat dua jari di ujung tangan kanannya. Sama halnya dengan kakinya, kaki kanannya berukuran jauh lebih kecil dr kaki kirinya dan hanya terdapat tiga jari di ujung kakinya.

Terlihat lelaki itu kesulitan menjaga keseimbangannya selama perjalanan. Tangannya terus berpegangan erat agar badannya tidak jatuh. Kesulitan lelaki itu bukan hanya tertangkap oleh mata saya, namun juga petugas bus way yang saya tumpangi. Petugas tersebut bahkan meminta salah satu penumpang untuk memberikan tempat kepada lelaki tersebut. Lelaki itu justru dengan ramah menolak tawaran petugas bus way, “gak pa-pa mas, sudah biasa kok” jawabnya sambil tersenyum. Saya pikir mungkin si lelaki itu akan turun tak lama lagi, tapi ternyata tidak, dia turun bersamaan dengan saya di halte terakhir tujuan bus way tersebut. Halte kota.

Selama perjalanan menuju halte kota, jumlah penumpang berangsur berkurang. Para penumpang berebut mengambil kursi yang telah kosong. Biasanya saya ikut dengan ritual berebut kursi tersebut, tapi kali ini saya benar-benar kehilangan selera. Saya malu, malu melihat lelaki itu tetap tidak mencoba untuk mengambil tempat duduk.

Hingga tibalah di halte Kota, lelaki itu dengan perlahan turun dari bus, sambil mengucapkan terima kasih kepada petugas. Ah, saya benar-benar dibuat malu secara tidak langsung oleh lelaki itu. Saya malu, malu sejak awal masuk bus saya sudah mengeluh, padahal secara fisik saya sehat dan bahkan masih mampu berdiri untuk waktu yang cukup lama. Sedangkan lelaki itu, menurut saya, berusaha untuk tidak memanjakan dirinya, ia memampukan dirinya, dan iapun mampu.

“Tantanglah dirimu sendiri, karena kau tidak tahu batas kemampuan dan potensi dirimu sampai kamu berhadapan dengan tantangan tersebut”.

Belajar lebih jauh dari hal sederhana tersebut dan melihat sejarah diri sendiri, sepertinya saya lebih banyak ingin dimanjakan dan memanjakan diri saya. Saya masih takut menghadapi tantangan-tantangan baru, dan selalu “cari aman”. Menurut saya, perilaku lelaki tersebut mencerminkan kperibadiannya yang tidak mudah menyerah dan tidak mau dikasihani. Ia menunjukkan bahwa dirinya mampu. Kalau saya diposisi dia, mungkin akan minta diprioritaskan untuk duduk.

Semoga hal kecil ini bisa menjadi pelajaran buat saya untuk tidak mudah mengeluh dan takut menghadapi tantangan. Memang benar kata salah satu sahabat saya, “tantanglah dirimu sendiri, karena kau tidak tahu batas kemampuan dan potensi dirimu sampai kamu berhadapan dengan tantangan tersebut”.

Terimakasih. Semoga kita bisa menjadi orang yang “mampu” dan dapat “me-mampukan” orang lain ya🙂

3 thoughts on “Memampukan Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s