Lelaki Subuh

Lelaki Subuh

Oleh: Arsetyanita Puspitasari

Menjelang subuh, beberapa orang bangun tanpa harus menunggu suara panggilan untuk segera menunaikan kewajiban sembahyang subuh. Salah satu penghuni rumah yang sudah mulai beraktifitas disaat penguhi lain masih tertidur lelap ialah seorang suami yang tengah membangunkan istrinya, mencium keningnya dan mengajaknya untuk segera bersuci dengan air wudhunya lalu bersama-sama menunaikan ibadah shalat malam.

image

Tidak ada rasa kesal di benak sang istri ketika sang suami membangunkan tidurnya. Tersenyum dan mengucapkan terimakasih, hal yang selalu ia lakukan ketika sang suami membangunkannya untuk shalat malam. Kebiasaan ini rutin dilakukan sejak dua tahun yang lalu, ketika Allah menunjukkan kasih sayangnya dengan memberikan cobaan kepada pasangan tersebut berupa penyakit kanker ganas yang menggrogoti kesehatan sang suami.

Benar, cobaan adalah bentuk kasih sayang Allah. Istri sangat merasakan perubahan drastis yang positif dari sang suami. Namun, yang paling merasakan bahwa cobaan itu adalah sebuah rahmat-Nya adalah suami itu sendiri. Sebelum cobaan itu datang, sang suami belum pernah merasakan kenikmatan menangis karena rasa syukur pada-Nya, belum pernah merasakan betapa dekatnya ia dengan yang menciptakannya dan belum pernah merasakan betapa berharganya waktu bersama istri dan anak-anaknya.

“ketika seseorang berada pada titik terendahnya, disitulah ia mendapatkan kesempatan terbesar untuk menjadi paling dekat dengan-Nya”

Masih teringat dengan jelas, ketika ia tak mampu lagi untuk mencari nafkah karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan, hingga ia merasa gagal menjadi seorang ayah maupun suami bagi keluarganya, sang istri memeluknya dan mengatakan kepadanya, “ketika seseorang berada pada titik terendahnya, disitulah ia mendapatkan kesempatan terbesar untuk menjadi paling dekat dengan-Nya”. Kalimat singkat dari sang istri yang merubah hidup suaminya. Sang suami mulai memahami dan merasakan berbagai hikmah dari cobaan yang menimpanya.

Selesai shalat tahajud, usai berdoa, suami kerap kali bercerita dengan selipan nasihat didalamnya. Istri dengan senang hati mendengarkan nasihat-nasihat dari suaminya. Bagaimana tidak patut disyukuri, dulu ketika sang suami masih disibukkan dengan aktifitas kantor, jarang sekali suami sempat memberikan kalimat-kalimat yang menentramkan hati istrinya, untuk sekedar berbincang mengenai perkembangan sekolah anaknya pun harus pintar-pintar mencuri waktu suaminya.

Azan subuh berkumandang, sang suami lantas bergegas menuju masjid yang terletak tidak jauh dari rumah mereka. Sebelum menuju ke masjid, seperti biasa, sang suami mengetuk kamar anak-anaknya untuk bangun dan segera menunaikan shalat subuh. Suami selalu mengajak anak laki-lakinya untuk ikut dengannya berjamaah di masjid. Sementara anak perempuannya dianjurkan untuk berjamaah dengan istrinya. Walaupun seringkali ajakannya tak berhasil, si suami tidak pernah menyerah,tetap mengajak anak-anaknya untuk merasakan nikmatnya ibadah.

Kondisi fisiknya yang lemah, tidak menghalanginya untuk selalu berjamaah subuh di masjid ataupun aktifitas pagi hari yang biasa dilakukan orang sehat kebanyakan. Beribadah, mandi, membangunkan anak-anak, dan membantu pekerjaan rumah, semua dilakukannya dengan penuh semangat. Disaat semua orang masih mengumpulkan semangat untuk beraktifitas, sang istri selalu melihat senyum yang merekah dan semangat yang menggebu pada suaminya di waktu subuh

Pulang shalat berjamaah di masjid, ia pun membantu menyiapkan makanan untuk istri yang akan berangkat bekerja dan anak-anaknya yang akan bersekolah. Tidak ada yang meminta, istri dan anak-anakpun sudah melarangnya, tapi sang suami tetap ingin melakukannya.

Saat anak-anaknya akan berangkat ke sekolah, kebiasaan baru sang suami selalu mengatakan kepada anak perempuannya untuk pulang tepat waktu dan tidak meninggalkan shalat. Untuk anak lelakinya, ia berpesan agar selalu menjaga ibu dan adiknya. Tak lupa sang suami seringkali memberikan beberapa lembar uang kepada anak-anaknya dan berpesan untuk memberikan kepada yang mereka anggap membutuhkan. Uang yang sengaja ia sisihkan dari pesangon yang didapat dari kantor tempat dulu ia bekerja. Jumlah uangnya tidak seberapa memang, tapi itu dilakukannya rutin tanpa henti selama dua tahun. Kecupan dikening juga dilakukan sang suami kepada istrinya ketika ia akan berangkat bekerja. Tak lupa, suami selalu memuji penampilan baru istrinya yang belum lama mengenakan jilbab.

Rahmat Allah datang dengan cara yang tak terduga…

Ketika anak dan istrinya beraktifitas, setiap hari sang suami tak pernah absen menelfon atau sekedar mengirim sms kepada anak dan istrinya untuk mengingatkan mreka agar tidak lupa makan dan menunaikan shalat. Dirumahpun sang suami terus mengisi waktunya dengan belajar mengaji dan membaca buku-buka agama yang dulu sama sekali tidak pernah menarik perhatiannya. Sungguh indah memang, rahmat Allah datang dengan cara yang tak terduga.

Subuh kali ini terlihat berbeda, cuaca begitu mendung. Keadaan suami yang biasanya begitu bersemangat, kali ini menjadi sangat pucat. Gerakan tubuhnya pun tidak secekatan biasanya. Keadaan kesehatannya menurun, istrinya sangat khawatir denga keadaan suaminya. Saat hendak berangkat ke masjid untuk shalat, sang istri melarang, tapi suami bersikeras untuk tetap berjamaah di masjid. Entah kenapa hati istrinya saat itu bergetar. Mungkin sebuah firasat.

Saat tengah bebenah diri, firasat sang istripun ternyata terbukti. Seorang jamaah masjid yang merupakan tetangga dekatnya, datang ke rumah dan memberitahukan berita duka itu. Suaminya meninggal diperjalanan pulang dari masjid, sekitar dua meter dari masjid.

image

berapa hari setelah suaminya wafat, suasana duka masih menyelimuti keluarga itu. Istri dan anak-anaknya merasa sangat kehilangan dengan sosok suami dan ayah tersebut. Suatu waktu, selesai menunaikan shalat isya, sang istri tidak sengaja menemukan dua carik kertas di laci tempat suaminya biasa menaruh Al-Quran nya. Dua carik kertas tersebut berisi pesan terakhir dari sang suami.

Assalammualaikum, wr,wb.

Istri dan anak-anakku yang aku cintai. Surat ini ditulis untuk menyampaikan hal yang mungkin belum sempat ayah sampaikan kepada kalian ketika ayah masih bersama kalian.

Istri dan anak-anakku, sebelumnya ayah minta maaf kalau ayah lalai menjadi imam keluarga yang baik buat kalian. Ayah pikir, dulu tugas suami dan ayah adalah hanya sebagi pencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan materi anak dan sitri, memberikan kasih sayang pada kalian serta menjadikan anak-anak sukses pendidikan dan pekerjaannya. Ternyata tidak hanya sekedar itu, tugas sesorang ayah tidak hanya membuat keluarganya bahagia di dunia tapi juga di akhirat. Imam yang baik adalah yang bisa membimbing keluarganya untuk semakin dekat dengan-Nya. Ayah belum mengajarkan kepada kalian apa arti sebuah kesuksesan dan untuk apa kalian mengenyam pendidikan. Semunya hanya untuk mencapai ridho-Nya, karena memang kehidupan di dunia itu bukan tujuan, tapi merupakan sarana untuk mencapai tujuan akhir di akhirat.

Istri dan anak-anakku, sungguh betapa Allah sangat menyayangi umatnya. Allah masih memberikan ayah kesempatan untuk menjadi imam yang sebenarnya dan seutuhnya bagi keluarga. Sakit yang diderita ayah dua tahun terakhir, membuka mata hati ayah untuk memahami apa arti hidup yang sebenarnya. Maafkan ayah ya istri dan anak-anakku, jikalau ayah sedikit cerewet dengan hal-hal kecil yang dulu sama sekali tak pernah ayah ributkan. Ayah cuma ingin membayar hutang-hutang ayah selama ini yang lupa mengajarkan kalian untuk mencintai-Nya. Sehingga, ketika ditanya di akhirat kelak akan amanah berupa istri dan anak-anak yang dititipkan kepada ayah, ayah masih sanggup untuk mempertanggungjawabkannya.

Anak-anakku, kelak jika kalian berkeluarga, jangan ulangi kesalahan ayah ya. Tanamkan dan ajarkan pada keluarga kalian akan akhlak yang baik dan rasa cinta terhadap pencipta-Nya. Siapkan diri kalian sejak sekarang ya anak-anakku. Untuk istriku yang sangat aku sayangi, terimakasih sudah menjadi “partner” hidup yang baik, setia dan sabar menemaniku. Terimakasih sudah mengenalkanku pada-Nya. Semoga kita semua bisa bertemu di surga kelak.

Wasslammualikum, Wr.Wb

Selesai membaca surat tersebut, air mata si istri bercucuran, membasahi kertas berisi tulisan tangan suaminya itu. Air mata sedih, haru dan air mata syukur, semua menjadi satu. Istri terus menangis, hingga ia lelah dan tertidur di atas sajadahnya.

Menjelang subuh, sebuah kecupan mendarat dikening sang istri, sayup-sayup terdengar suara seseorang yang membangunkannya untuk segara menunaikan shalat tahajud. Persis, persis seperti yang dilakukan oleh suaminya. Saat sang istri membuka matanya, betapa kaget dan bersyukurnya ia, anak laki-lakinya yang membangunkannya untuk segera menunaikan shalat tahajud dan berjamaah subuh bersamanya. Tak terasa, air mata sang istri kembali mengalir. Subhanallah, alhamdulilah, andai kau melihat ini suamiku, andai kau tahu bahwa di waktu singkatmu kau sudah memberikan begitu banyak hikmah bagi keluarga ini. Suamiku, terimakasih telah menjadi imam yang seutuhnya buat istri dan anak-anakmu.

NB: Didedikasikan untuk para imam keluarga yang tak pernah lelah mengajak keluarganya untuk mencapai surga-Nya🙂

8 thoughts on “Lelaki Subuh

  1. tulisan yang menyentuh sekali… sangat bagus…

    aku menemukan beberapa tulisan yang bertema nyaris sama dengan ini

    namun beda penulis pasti beda cara penyampaian, tata bahasa dan juga setting alur dalam cerita.

    tulisan ini dibawakan dengan sangat baik…

    boleh copas ke blogq juga ga? http://www.lifefootnote.wordpress.com

    syukron buat tulisannya…

    • Betul sekali akh, penulis aslinya yang aku cantumkan di atas. Aku cuma membantu sharing tulisannya.

      Dibaca berkali-kali tidak bosan krn Aku ngena bgt bacanya🙂 Silahkan di copas

      Syukron..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s