Aku Seorang Pelupa

Teringat sebuah pengalaman hidupku, begitu pekat sekali diingatanku saat ini. Benar kata orang bahwa berhati-hatilah dengan ucapanmu. Berikut Aku ingin menceritakan sepenggal kisahku.

Dahulu selalu dan selalu Aku bilang kepada teman-temanku, “Maaf ya, Aku punya daya ingat yang kurang baik..Jadi maaf kalau ada janji yang suka terlupakan…”. Dan begitulah kenyataannya saat dimana Aku bertemu dengan seseorang, Aku sering lupa baik itu wajah maupun namanya. Dalam benakku berkata, “Yaa Rik, wajarlah..dirimu kan pelupa..lagipula kamu sudah kasih tau keteman-teman kamu yang kamu jumpai, bahwa kamu itu orang yang pelupa..”

Hari demi hari Aku lewati hingga tidak terasa Aku sudah masuk ke tingkat universitas. Saat itu Aku mempunyai tekad untuk bisa menjadi orang yang lebih baik, namun sayangnya Aku hanya ingin menjadi seorang leader tanpa melepaskan sifat pelupaku. Bahkan Aku pernah sekali mengucapkan secara jelas dan lantang bahwa diriku adalah seorang yang pelupa. Akupun tidak malu menceritakannya kepada teman-temanku dengan wajah seperti tidak punya dosa.

Alhasil, sifat pelupaku pun menjadi sebuah gambaran pribadiku dimasa itu. Aku pun sering mengkambing hitamkan “sifat pelupaku” kedalam setiap aktivitas selama dikampus. Sebenarnya sedih Aku mendengarnya, Aku pun bertanya kepada diriku, “Yaa Tuhan, apakah saya begitu pelupa? Apa salah saya ??”.

Aku bergantung pada prasangka hamba-Ku. Sekiranya berprasangka baik, akan berdampak baik dan sekiranya berprasangka buruk akan menjadi buruk.

Sungguh ucapan dan pikiran telah mempengaruhi kehidupanku di kampus. Akupun bertekad untuk merubah sikap yang Aku anggap buruk ini. Tapi…..Bagaimana ?? Apa yang harus kulakukan ?? Sudah sering Aku lihat buku-buku yang berjudul “Metode mengingat cepat”  dan tetek bengek lainnya, namun hasrat untuk membacanya sangatlah kurang.

Teringat hadist Qudsi yang mengatakan bahwa “Aku bergantung pada prasangka hamba-Ku. Sekiranya berprasangka baik, akan berdampak baik dan sekiranya berprasangka buruk akan menjadi buruk”. Saat itu Aku tidak habis pikir, bahwa Aku menyatakan langkah awal yang akan kulakukan yaitu mengubah niatku untuk menjadi seorang yang tidak pelupa!

When there is a will, there are a path..

Entah kenapa, Aku memiliki ego yang sangat besar untuk membeli sebuah buku. Apakah yang Aku beli “Metode Mengingat Cepat” ? Tentu TIDAK ! Secara naluriah, hobiku untuk membeli buku dimulai saat Aku masih duduk di bangku kuliah. Aku tidak habis pikir jika ingin membeli buku, secara perlahan Aku membaca buku yang Aku beli dan Alhamdulillah, sedikit sekali buku yang selesai Aku baca. Dalam benakku berkata mungkin karena hobiku membeli buku, bukan membaca buku..Namun dengan dorongan yang begitu besar dari egoku, terkadang Aku dapat membaca buku hingga berjam-jam lamanya.

Waktu demi waktu terus berjalan, dan Akupun sudah tidak pernah mengucapkan, “Maaf Aku pelupa orangnya..” kepada siapapun semenjak itu. Usaha yang Aku lakukan yaitu Berdoa, Berusaha, dan Berikhtiar…Biarkah Allah yang memiliki rencana kepada hamba-Nya yang ingin berubah.

Alhamdullillah, sampai saat ini sikap pelupaku semakin lama semakin berkurang. Mungkih sih masih ada namun itu manusiawi bukan?? :p bayangkan lohh kalau Allah tidak menciptakan “lupa” kepada hamba-Nya, bisa-bisa banyak orang yang trauma dan stress berat. Hehehehe…

Setelah selang beberapa lama, Aku menjadi seorang yang memiliki tipikal dreamer dan reader :p , salah satunya Aku hobi menulis dan membaca blog..hhehe (buktinya yaa yang kalian baca ini).

Suatu waktu, Aku iseng saja membaca blog dari orang-orang. Kemudian Aku melihat judulnya “Obat Lupa”. Tidak berpikir panjang, Akupun mencoba melihat bagaimana sih resepnya dilihat dari sudut pandang sunnah Islam. Alhamdulillah, dengan rasa syukur yang tidak terbendung Aku membaca sebuah hadist yang menyentuh hatiku. Berikut isinya :

Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah As Sadhan hafidzahullah berkata :

Jadi, janganlah engkau meremehkan kemampuan dirimu dan hendaknya engkau bersungguh-sungguh, semoga Allah merahmati Imam Al Bukhari ketika ditanya : ” Apakah obatnya lupa ? Beliau menjawab : ” Terus menerus melihat buku.”(Maalim fii Thariq ThalabilIlmi, hal. 31)

Subhanallah, maha suci Allah, Engkau telah memberikan Aku jalan untuk menghilangkan sifat burukku dengan menimbulkan semangatku untuk melihat sebuah buku. Keinginanku untuk membaca dan menulis sangatlah tinggi, entah itu darimana datangnya..Namun yang Aku yakini, Allah telah memberikan Aku jawaban atas pertanyaanku..”Bagaimana menghilangkan Sikap Lupaku…”

8 thoughts on “Aku Seorang Pelupa

  1. Pingback: Menulis untuk diri sendiri « Erick Azof

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s