Memantaskan Diri

Waktu terus berjalan

Memantaskan diri

Suatu saat Aku merenung untuk merefleksikan 23 tahun hidupku selama didunia ini. Pikiranku pun terbang jauh melayang disaat Aku masih duduk dibangku SD di kota Palembang. Rasa bahagia bermain dengan teman-teman karibku, rasa duka dimarahi guru, saat kecewa ketika tidak dibelikan mainan oleh orangtuaku. Pikiranku pun terus melayang hingga Aku duduk dibangku SMP. Kali ini Aku sudah pindah ke Jakarta, yang menurut sebagian orang, “Jakarta itu keraaass!”

Masa remajaku pun dihabisi dikota Jakarta, kota metropolitan. Rasanya? Semua campur aduk kaya gado-gado. Namun yang patut Aku syukuri ialah Aku diberikan umur panjang untuk dapat merefleksikan hidupku, merenungkan hidupku, serta menyusun kerangka hidupku. Tentunya perjalanan hidup tidaklah semudah yang dibayangkan, namun Alhamdulillah ada sebuah pondasi dasar yang di bentuk perlahan-lahan dengan bahan yang terbuat dari rasa cinta dan kasih sayang oleh orangtuaku, yaitu Agama.

Alhamdulillah,orangtuaku mengenalkanku dengan agama Islam. Mungkin sebagian besar dari kita masyarakat Indonesia telah mendapatkan predikat seorang muslim sejak lahir, bahkan di KTP sekalipun diperjelas bahwa kita itu ISLAM. Namun, sudahkah kita kenal dengan ISLAM ? Itulah yang menjadi pertanyaanku disaat Aku sudah memasuki seperempat abad.

Apakah Aku sudah layak ?

Memantaskan diri. Itu kata yang tepat saat Aku merasa bingung, terpuruk, sedih, kecewa, ataupun galauuu (istilah anak gahoell zaman sekarang). Ya begitulah, tepat diumurku sekarang, Aku sibuk untuk memantaskan diri. Memantaskan diri dari apa ? Memantaskan diri apakah Aku sudah layak disebut anak yang berbakti kepada orangtua ? Apakah Aku sudah layak menyandang seorag muslimin? Apakah Aku sudah layak sukses secara karir? Apakah Aku layak disebut manfaat bagi orang sekitar? Apakah Aku sudah cukup dewasa dan tanggung jawab untuk hidup mandiri? Dan masih banyak hal yang harus ku pertanyakan kepada diriku, yaitu “Apakah Aku sudah layak?”

Saat dimana teman-teman seumuranku sibuk untuk mengejar karir serta cita-citanya, Aku malah merefleksikan diri…Apakah Aku sudah layak ?? Jawabannya yaitu berdoa. Ribuan pertanyaanku mengenai hidup ini telah dijawab oleh Allah SWT melalui proposal pertanyaan yang Aku kirim kepada-Nya. Doaku pun terjawab melalui khalifah-khalifah yang menurutku mereka sangat luar biasa diumurnya, sebut saja @Ipphoright, @JamilAzzaini, @Saptuari, @ahmadgozali, @aagym, dan masih banyak lagi. Aku diberikan kesempatan mendapatkan ilmu mereka melalui media “Twitter” (anak gahoeel zaman sekarang maenannya twitter :p)

…tugas gw sekarang untuk memantaskan diri…

Ilmu memantaskan diri ini Aku dapatkan banyak dari beliau-beliau. Ya! Saat ini Aku sedang sibuk untuk memantaskan diri agar 23 tahun Aku hidup didunia ini tidaklah sia-sia. Toh, siapa sih yang tahu umur kita akan panjang ?? Begitupula dengan pertanyaan “Rik, katanya lu mau nikah muda…emang sudah ada calonnya ??”. Dengan santai Aku menjawab, “Yaaa belum ada sih…tapi seakan-akan sudah ada..dan tugas gw sekarang untuk memantaskan diri..toh rezeki tidak tertukar, apalagi jodoh?”

Heheehe..so guys, pastikan kita semua dapat merenungkan kembali umur kita dan pertanyakan kembali kepada kita sendiri, “Sudah layakkah kita ??”

6 thoughts on “Memantaskan Diri

  1. haahha sy suka jwbnnya pas ditanya soal calonnya.. santai..
    yup. beruntung ada twitter bsa belajar dr org2 hebat dg mudah. memantaskan diri ini ada d bhsn bukuny mas ippho 7 keajaiban rezeki. bagus dan sy jg mo praktek..memantaskan diri😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s