Menulis untuk diri sendiri

Pagi ini Aku membaca beberapa artikel, baik dari artikel kesehatan, teknologi, hingga renungan (this is my favorite article). Sambil menikmati derasnya hujan yang barokah, sejuknya udara pagi hari, Aku berfikir untuk dapat menulis.

Ya begitu sederhana bukan? Keinginan menulis ini timbul saat hobiku membaca buku dimulai. Sederhana tapi tidak semudah membalikkan telapak tangan, simak tulisanku mengenai “Aku Seorang Pelupa”, cerita tersebut merupakan titik awal mengapa saat ini Aku seperti ketagihan untuk dapat menulis suatu hal, even hal tersebut tidaklah begitu penting..hahaha! =.=”

Menulis untuk diri sendiri, Aku tersenyum sendiri saat melihat beberapa tulisan yang pernah Aku buat. Hasilnya? Tidak bagus-bagus amat, tetap merasa minder kalau membaca tulisan teman-teman yang lebih tertata rapih tulisannnya, berbobot isinya, ditambah komentar dari para pembacanya. Alhamdulillah, saya masih memegang teguh prinsip sekecil apapun perbuatanmu, pasti akan ada manfaatnya. Sejelek apapun tulisanku, minimal ada satu orang yang membaca..(yaa itu saya sendiri! Hahahaha!)

Menulis melatih kepekaan

“Saya memang bukan orang yang pandai berkata-kata atau produktif dalam menulis. Hanya mulai merasa menulis merupakan suatu kebutuhan hati. Untuk saya pribadi, menulis merupakan sarana bagi saya untuk  selalu mengingatkan diri, berbagi ide dan pesan serta melatih kepekaan…”

Penggalan kalimat diatas Aku kutip dari tulisan sahabatku, Arsetyanita. Wuihh, kalimatnya menohok mendalam menusuk jantung. Aku setuju bahwa menulis tidak harus untuk orang yang berpandai berkata-kata, karena menulis itu merupakan suatu kebutuhan hati. Menulis juga melatih kepekaan hati, sampai sejauh mana kita memaknai kehidupan kita, terkadang kita hanya melewati waktu kita begitu saja padahal banyak manfaat yang dapat kita pelajari dari kehidupan kita.

Buku Best Seller

Sebenarnya sejak kita lahir, kita sudah dilatih untuk menulis. “Lohhh koq bisa?!” , ya lah! Kita menulis mengenai kehidupan kita sehari-hari dan ditulis disebuah buku yang sangat besar bernama “Otak”. Ya disitulah tulisan kita simpan dan tebalnya ‘buku’ tersebut sepanjang hayat umur kita. Pastikan pada satu titik tertentu, kita dapat membuat sebuah buku yang tebal layaknya buku novel trilogi. Kitalah yang membuat cover buku, isi buku dan kita pulalah yang mengakhiri buku tersebut. Nah, itu pilihan kita, mau buat buku yang tepis pis pisss atau mau buat buku yang tebal bal ball..mau buat buku yang best sellerrr lleerrr, atau buku yang akan disimpan dan terkunci rapat dalam gudang yang gelap.

SO, masih menunda untuk menulis ?? Oraa opo-opo, kehidupan ini adalah pilihan, menulispun adalah pilihan. Hehehee!

3 thoughts on “Menulis untuk diri sendiri

  1. Ya ampun, itu ad kutipannya, padahal si nulisnya nyuri2 waktu dikantor :$ . hehe.. Thanks sudah berbagi semangat untuk menulis. Mohon diingatkan untuk terus produktif ya pak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s