Universitas Kehidupan (2)

Adventure starts when we set the time, not the time set us

Bismillahirrahmanirrahim,

Waktu itu sungguh relatif, kita tidak tahu apa yang akan terjadi sedetik, semenit, sejam, atau sehari kedepannya. Tentang waktu, Aku banyak belajar di kampus kehidupan ku ini, di Bintan. Disini pula Aku belajar bagaimana mengenal dan memanfaatkan waktu lebih dalam, yaitu belajar mengatur waktu dan bukan waktu yang mengatur kita.

3 Bulan

3 bulan waktu yang sangat lama bagiku, home sick bahasa gaulnya. Sesibuk apapun pekerjaanku disini, tetap ada perasaan ingin pulang kembali ke Jakarta, bertemu keluarga. Pernah sekali waktu Aku mendapatkan jatah cuti beberapa hari, dan Aku kumpulkan hingga genap satu minggu. Peluang tersebut tidak Aku sia-siakan dan kugunakan untuk kembali ke Jakarta. Begitu pentingnya waktu, hingga kita rela berkorban apapun untuk dapat memanfaatkan waktu dengan bertemu keluarga.

3 bulan waktu yang sungguh mengejutkan, salah satu teman seperjuanganku memutuskan untuk mengundurkan diri dari Universitas Kehidupan ini. Perasaan gundah gulana bercampur aduk seperti gado-gado, bedanya gado-gado yang Aku rasakan sekarang yaitu gado-gado yang terpahit. Beginikah kehilangan sahabat ? Begitu relatifnya waktu, setiap orang akan datang dan pergi seiring berjalannya waktu dan kita tidak ada kuasa untuk menghentikannya.

3 bulan waktu yang sangat menyedihkan bagi hatiku. Baru kali ini merasakan putus cinta tanpa bisa berbuat apa-apa. Ingin rasanya teriak sekencang-kencangnya di hutan yang letaknya sebelah dormitory ku (tempat Aku tinggal). Namun, apa gunanya? Toh, hanya monyet serta binatang-binatang saja yang akan mendengar kegalauanku. Begitu kejamnya waktu, dia tetap maju tanpa menghiraukanmu.

Lengkap sudah dalam waktu 3 bulan, terdapat 3 masalah yang membuat keyakinanku bergoyah. Apakah Aku bisa melanjutkannya ? Apakah Aku dapat komit terhadap cita-citaku di Bintan ? Apakah Aku dapat melanjutkan lebih lama untuk mendapat gelar sarjana di Universitas Kehidupan ? Ternyata cobaan inilah yang membuatku lebih kuat dari sebelumnya, yang membuatku lebih dewasa dalam berfikir, yang membuatku bersabar menerima ketentuan-Nya. Karena Allah tahu bahwa jika seorang hambanya ingin diangkat derajatnya maka perlu ‘ujian’ kehidupan yang harus dilaluinya. Jika kita ingin naik ke semester selanjutnya, bukankah harus melewati ujian semester dahulu ? Bukankah begitu ?

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 142)

Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al Baqarah : 155)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Al-Anbiyaa’ : 35)

Mencukupkan Waktu

Sama halnya dengan kehidupan di kampus, kita harus pandai mengatur waktu. Kenapa? Setiap kuliah ada jadwalnya dan terkadang kita harus rela pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk ikut kelas berikutnya. Begitu pula yang kurasakan di kampus ini, tidak akan ada seorang pun yang memintamu untuk datang dan bekerja. Semua serbaaaa sendiri, dari mencuci pakaian, memasak makanan atau hanya sekedar pergi kekantin, membersihkan rumah, hingga datang ke kantor harus tepat pada waktunya. Begitu pentingnya waktu sebagai proses pemandirian diri kita.

Pernah satu kali waktu ujian menghampiriku untuk menilai sampai sejauh mana kau beri ‘waktu’mu kepada-Nya. Cerita ini sempat Aku tuliskan di blogku dengan judul “Allah Cukupkan Waktuku”. Pada intinya, Aku diberikan ujian dalam menentukan prioritas dalam mengatur kegiatan apa yang menjadi prioritas, urusan dunia atau urusan akhirat ? Tentu saja plihan kedua yang akan kita pilih, namun apakah kita yakin ? Disaat kita dihadapkan dengan kedua pilihan tersebut apakah mungkin kita bisa mendahulukan-Nya dibandingkan urusan dunia ? Berikut beberapa firman Allah SWT yang InshaAllah menjawab pertanyaanku :

“Apa  yang  kamu  kehendaki, (tidak dapat terlaksana) kecuali dengan kehendak Allah”
(QS Al-Insan : 30)

 “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia”.
(An Nahl : 40)

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia”.
(Yaasiin : 82)

Sungguh mudah bagi-Nya untuk dapat merubah suatu ketentuan. Alhamdulillah saat itu Aku mencukupkan waktu untuk dapat curhat kepada-Nya. Aku merasa seluruh kejadian dan kehendak di dunia ini atas ijin-Nya, bahkan sehelai daun yang gugur dari pohonnya sudah menjadi ketentuan-Nya. Apa lagi manusia? Mahkluk kecil yang sangat lemah dan terkadang sombong ini membuat kita gampang tergoda dan menjadi lupa diri sehingga terlalu memprioritaskan urusan dunia. Namun pada akhirnya, Allah cukupkan waktu kepadaku. Aku diberikan waktu yang cukup untuk bersyukur kepada-Nya dan segala urusanku di dunia di selesaikan oleh-nya.

Thank you mom, you teach me how to solve the problem..by let me know Allah SWT. .

2 thoughts on “Universitas Kehidupan (2)

  1. didalam waktu ada proses…kalo kita ( lo, lo, dan lo semua) ngejalanin hari2 dgn ikhlas, atas nama Allah pasti proses itu akan terasa indah (meskipun sebenernya ga indah2 amat, hehehe)…
    keren rik..still waiting for your next sections..:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s