Universitas Kehidupan (3)

Universitas Kehidupan, tempat bertemunya dengan guru kehidupan

Setiap orang yang Aku temui menjadi guru di universitas kehidupanku. Aku lebih suka menyebutnya sebagai seorang guru dibandingkan dosen karena guru identik dengan seseorang yang tidak hanya pendidik namun juga sebagai pengasuh. Ada nilai-nilai lebih yaitu nilai kehidupan yang diajarkan oleh setiap guru dan dengan nilai itu, sang guru mengasuh anak muridnya serta membimbingnya layaknya kedua orang tua kita.

Banyak guru yang Aku temui dan mereka semua adalah guru yang hebat. Mereka tidak sekedar pemberi nasehat namun juga menebar manfaat, mereka layaknya pupuk tanaman yang tidak hanya menyuburkan tanaman namun juga menyuburkan tanah sekitar tumbuhan tersebut. Sungguh nikmat mana apa lagi yang kudustakan?

Dalam tulisanku kali ini, Aku akan menceritakan 2 orang yang Aku pilih untuk menjadi best teacher di kampus kehidupanku. Mereka adalah Pak Hamdani dan Pak AG, guru yang merubah caraku berfikir, guru yang mengajarkanku ilmu kehidupan, guru yang menjadi pengganti orangtuaku selama Aku bekerja disini.

1. Pak Hamdani
Tepat bulan Juni 2011 Aku berkenalan dengan beliau. Beliau bekerja di Departemen yang sama denganku setelah sebelumnya bekerja di bidang pengamanan wilayah (security). Pengalaman pertama dengannya yaitu saat Aku memiliki kesempatan untuk pergi kesuatu desa berdua dengannya. Awal pertemuan itu hati nuraniku langsung berbicara, inilah orang yang tepat untuk mengajariku ilmu kehidupan.
“Setelah beberapa bulan bekerja, Aku merasa baru kali ini Aku dikenalkan dengan ilmu community development…Terima kasih Pak..”
Penggalan kalimat tersebut terucap saat Aku berjalan dengannya. Beliau yang merupakan lulusan SMA namun kehidupannya sudah kaya sekali dengan ilmu kehidupan. Pengalaman kehidupannya yang membuat dirinya menjadi seorang yang sangat bijak namun tegas. Tidak cukup lama untuk dapat merasa dekat dengannya, bahkan orang sekitar yang baru saja berkenalan dengannya merasa beliau adalah saudara yang sudah puluhan tahun tidak berjumpa atau dengan kata dianggap saudara.

Ilmu Masyarakat
Pernah satu kali kejadian saat kita (rekan tim satu departemen) turun ke masyarakat pesisir. Sebuah kampung kecil yang seluruh mata pencahariannya adalah seorang nelayan. Masyarakat disitu sebagian besar dihuni oleh para tetua yang sangat berhati-hati jika datangnya orang baru. Saat itu Pak Hamdani berkesempatan untuk ikut mengunjungi kampung tersebut. Aku serta tim lain yang biasa datang berkunjung kekampung itu terlihat masih kaku dalam berkata-kata. Bahkan sempat ada cibiran dari salah satu warga yang bilang, “Itu siapa sih? Banyak cakap kali orangnya..”.
Namun hari itu berbeda, Aku bersama Pak hamdani dan rekan tim lainnya mengadakan silaturahmi ke warga di kampung tersebut. Aku melihat tindakan, ucapan, serta kemampuan mendengar Pak Hamdani yang membuat dirinya begitu akrab dengan para tetua sekitar. Satu hal yang lebih mengejutkan diriku yaitu sesaat sebelum pulang, Pak Hamdani diberikan satu kantong plastik penuh dengan ikan hasil tangkapan nelayan dan itu semua FREE! Alias gratis.

“Jadilah lautan karena lautan lebih rendah dari daratan dengan begitu lautan dapat menampung air sebanyak apapun, jadilah orang yang lebih rendah hati karena dengan begitu Engkau dapat menampung permasalahan hidup apapun..”

Beliau adalah sosok yang sederhana, beliau sempat menceritakan kepadaku mengenai masa kecilnya dan dari pengalaman tersebutlah ilmu kehidupan ia dapatkan yang membuat dirinya menjadi seorang ayah yang bijak, seorang pria yang tegas, seorang suami yang penyayang, seorang masyarakat yang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Jadi wajarlah jika rekan-rekan di departemen security sangat menghormatinya meskipun ia telah pindah departemen. “Siaapp komandan!”, ucapan yang sering Aku dengarkan jika Aku melewati pos pengamanan sebelum pergi ke desa. Awalnya Aku menganggap hal itu biasa, namun lama kelamaan Aku penasaran bagaimana seorang atasan bisa sangat begitu dihormati setelah atasan tersebut sudah bukan atasan mereka lagi.

Ilmu Kepemimpinan
Salah satu alasan kenapa seseorang ditunjuk menjadi seorang pemimpin yaitu cara dia berfikir. Layaknya seorang imam, seorang pemimpin itu bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang pemimpin itu mengajarkan anak buahnya bagaimana jika terjatuh dan bagaimana jika bangkit. Seorang pemimpin itu teladan bagi anak buahnya. Serta masih banyak definisi pemimpin yang kita ketahui.
Berbeda dengan atasan atau Boss, mereka adalah pimpinan kita saat itu namun setelah masa kepemimpinan mereka telah habis, mereka layaknya orang biasa, bahkan terkadang ada yang lebih buruk. Mereka yang tidak respect, akan berada posisi yang lebih dibawah karena roda kehidupan itu selalu berputar. Hal inilah yang terkadang dilupakan oleh para atasan bahwa masa menjadi atasan itu ada batasnya sebaliknya seorang pemimpin akan dihormati dimanapun dia berada.

“Benar adalah benar dan salah adalah salah..jangan membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar!”

Aku teringat bahwa Nabi Muhammad SAW sebelum ditunjuk menjadi Nabi, beliau melakukan perdagangan. Karena kejujuran dalam melakukan perdagangan beliau mendapat julukan Al-Amin, yang artinya terpercaya. Mungkin terlalu jauh jika membandingkan seorang Nabi dengan seorang pria yang kukenal di Pulau Bintan ini, namun Aku melihat kejujuran merupakan modal awal seseorang menjadi seorang pemimpin.
Beliau berkata apa adanya, beliau mengatakan bahwa benar adalah benar dan salah adalah salah, bukan sebaliknya. Pernah sekali waktu kesalahan dilakukan olehnya, diapun mengiyakan kesalahannya namun dibalik kesalahan itu ada kesalahan yang lebih buruk yang dilakukan oleh atasannya dan diapun meminta pertanggungjawabannya. Sungguh banyak ilmu yang kudapat darinya mungkin akan menjadi sebuah buku jika seluruh pengalamanku dengannya tertuang di tulisan ini. Meskipun baru sekitar 7 bulan Aku berkenalan dengannya. Terima kasih Pak, karena telah menjadi guru dalam kehidupanku.

2. Pak AG
Seorang pria yang kukenal ini adalah atasan tergaul yang pernah saya temui. Jangan kaget jika suatu saat bertemu dengannya, sikapnya yang luwes membuat dirinya dapat diterima secara cepat oleh siapapun termasuk diriku sendiri. Disamping kegaulannya, banyak ilmu yang kudapatkan dari dirinya.

Ilmu Komunikasi
Secara tidak sadar Aku merasa beliau yang telah mempertemukan Aku dengan orang-orang hebat yang berada disekitar kawasanku bekerja. Hingga pernah Aku bilang kepadanya bahwa bapak seperti motto nya hape nokia, “Connected People”. Selain mempertemukan diriku dengan teman-teman hebat yang lain, Aku juga menyebutnya sebagai penyambung mimpi, atau dengan istilah “Connected Dreams”. Setelah seseorang telah memiliki mimpi, maka mimpi-mimpi seseorang akan bersinergi satu sama lain demi mewujudkannya.

“Be respect and be honest..!”

Saat Aku mencoba tahu resep rahasia yang dimilikinya, ternyata sangatlah sederhana yaitu Sikap Hormat dan Jujur!. Akupun teringat dengan ucapan ibuku saat Aku masih mengenyam pendidikan dikampus dulu, yaitu Homati. Karena terkadang dimasa muda dengan rasa ego yang tinggi dan merasa serba bisa membuat diri kita tinggi hati dan sombong. Menghormati, salah satu cara agar hati kita tetap marasa haus ilmu meskipun kita tahu terkadang tetap timbul di benak kita bahwa “Aku lebih bisa dibandingkan atasanku!”.

Ilmu Cinta
Loh koq bisa ? Tentu saja bisa! Aku pribadi merupakan tipikal seorang lelaki yang suka mencintai dan suka dicintai. Bahkan dahulu, Aku dengan bangga menyebut diriku ialah seorang dosen cinta. Namun diluar itu semua, ilmu cinta sangatlah menarik untuk dikaji lebih dalam. Ilmu cinta itu sungguhlah luas, hingga pada titik Aku sulit untuk mengungkapkan cinta dengan cara yang paling sederhana.

Pak AG, beliaulah salah satu orang yang memberikan makna arti cinta kepada keluarga. Keteguhan yang dimiliki seorang suami yang cinta kepada keluarganya itu yang membuat Aku yakin bahwa kelak jika Aku menjadi seorang Bapak Rumah Tangga, ada kewajiban cinta yang harus kuberikan kepada keluargaku. Beliau menyebut anak-anaknya dengan sebutan yang sungguh indah, yaitu para srikandi. Sebutan yang begitu mulia dan menyentuh benakku, hingga diriku berfikir akan Aku panggil sebutan apa anakku kelak.

Begitulah sebagian pengalamanku dalam bertemu guru-guru yang luar biasa, tidak hanya mereka  namun juga  semua orang yang Aku temui dapat menjadi guru yang luar biasa.

Wah luar biasa ya? Guru saya tidak hanya 5, 10, atau 20 orang namun hampir semua yang kutemui bisa menjadi guruku. Caranya? Gampang! Ada 2 pilihan untuk kita masing-masing dalam menjalani hidup yang singkat ini, yaitu pertama, mereka yang mau memahami hidupnya dan kedua, mereka yang tidak mau memahami hidupnya. Dan semoga kita termasuk golongan yang mau memahami hidup kita, yang mau mendapatkan ilmu dari hidup kita, hingga menjadi ilmu yang bermanfaat. Amin.
Dari Abu Hurairah r.a, dai berkata: ” Rosulullah saw bersabda: Apabila anak adam meninggal dunia, terputuslah ilmunya kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya. (HR. Muslim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s