Belajar dari Sebuah Sketsa

Beberapa hari ini yang lalu Aku disibukkan dengan membuat beberapa sketsa. Aku mencoba mencari tahu definisi dari sketsa itu sendiri, salah satunya Fajar Sidik (1981) yang mengatakan bahwa sketsa adalah garis atau penggarisan merupakan unsure yang paling menonjol hakiki dalam seni lukis, namun pada dasarnya terdapat perbedaan antara sketsa dengan lukisan, ada ungkapan yang menarik yang disampaikan oleh Kusnadi, seorang seniman dan kritikus seni rupa. Sketsa ibarat gesekan biola tunggal, sedangkan lukisan merupakan sebuah orkes yang lengkap.

Cukup banyak penjelasan dari beberapa ahli di bidang seni ini, namun dalam tulisanku kali ini Aku mencoba mengaitkan antara sketsa yang digoreskan diatas kertas, kanvas, ataupun sejenisnya dengan sketsa yang digoreskan di kehidupan kita. Hal ini berarti kitalah seniman dari sketsa hidup kita. Betul begitu ?

Baiklah, berikut proses terjadinya sketsa yang kubuat :

1) PILIH. Pada bagian kiri terdapat foto seorang wanita berjilbab merah. Temanku meminta agar wajah wanita tersebut dapat di sketsa. Alhasil dengan menggunakan software Adobe Photoshop, Aku mengubah gambar foto ini menjadi sebuah sketsa sederhana.

2) FOKUS. Tahap selanjutnya, Aku menyeleksi gambar yang ingin Aku sketsa. Dalam sketsa ini, yang menarik kuambil yaitu wajah serta jilbab merah yang dikenakan oleh wanita itu. Itu berarti Aku akan lebih fokus pada foto yang sudah kuseleksi.

 

3) PROSES. Ada beberapa tahap seperti duplicate, desaturate, color dodge, gausian blur, dodging tools, sebelum ada beberapa proses akhirnya terbentuk goresan pensil. Bisa lama, bisa sebentar tergantung kemampuan kita dalam memprosesnya.

4) HASIL.  Setelah melalui beberapa tahap dalam desain, akhirnya terbentuklah hasil sebuah gambar sketsa wajah yang cantik dari foto tersebut.

Nah,  sampai pada tahapan ini Aku sempat berhenti sejenak dan memulai membiasakan diri untuk melakukan trik sketsa berulang-ulang.

Namun setelah itu apa yang perlu dilakukan? Pernah dengar kalimat “Belajarlah hingga keliang lahat”? Yaa Aku rasa inti dari kalimat tersebut yaitu teruslah berimprovisasi dan jangan puas pada satu titik saja. Karena pada dasarnya Tuhan menciptkan bumi yang luas ini agar kita dapat belajar lebih banyak lagi. Tujuannya agar kita merasa kecil, merasa sangat lemah, dan bersyukur atas nikmat yang sudah diberikan oleh-Nya.

Selanjutnya, Aku pun mulai mencari teknik baru meningkatkan kualitas dalam membuat sketsa. Seperti definisi yang telah dijelaskan oleh Fajar Sidik, “ada sketsa dan ada lukisan”, serta defisini dari seniman Kusnadi, “bahwa sketsa seperti sebuah violin dan lukisan seperti orkestra”. Artinya ada kemungkinan besar Aku dapat meningkatkan kualitas sketsa, yaitu colouring.

Berikut contoh lain foto yang telah Aku beri colouring dari hasil sketsanya yang sederhana.

1) SKETSA. Secara umum proses  yang kulakukan hampir sama dengan gambar sebelumnya. Yaitu kupilih fotonya, kuambil yang ingin Aku sketsa dan kuberi sentuhan sketsanya.

2) MENINGKATKAN. Selanjutnya, agar hasil sketsa dapat lebih dinikmati, maka Aku menambahkan colouring di sketsa tersebut. Hasilnya dapat dilihat pada gambar disamping berikut. Semoga Bagus ya😉

Selesai! Selanjutnya pelajaran apa sih yang kita dapatkan dari sketsa yang sederhana ini? Kita adalah seniman dari kehidupan kita. Kita akan melalui proses-proses seperti :

1) “PILIH”, artinya kita akan memilih jalan hidup kita seperti apa. Entah mau menjadi presiden, politikus, pekerja sosial, seniman, pengusaha, dll, itu adalah pilihan hidup kita.

2) “FOKUS”, artinya jika ingin menggapainya tentu kita harus fokus mengejarnya bukan? Ya fokus dan tidak kesana kemari tidak jelas. Itulah mengapa cita-cita, impian akan sangat penting dalam hidup kita. Karena jika dari awal kita tahu apa ynag ingin dicapai, tahap selanjutnya yaitu fokus dan berusaha mendapatkannya.

3) “PROSES”. Kita masih hidup di Bumi broo! So, hidup ini adalah proses. Kita bukanlah aladin yang tinggal bilang ke ‘jin’ nya dan semua permintaan akan terkabul. Nikmati proses hidup ini, toh, dalam disain banyak proses yang harus dilalui, benar begitu?

4) “HASIL”, seperti yang Aku tunjukkan diatas bahwa sketsa yang dibuat merupakan hasilnya. Apa sudah selesai? Yaa tergantung kita masing-masing. Ada orang yang merasa cukup dengan pekerjaannya sekarang dan menikmatinya hingga masa pensiun, namun juga ada orang yang tidak puas dan ingin mencari yang lebih! Pilihanya tergantung kita masing-masing, mau pilih yang mana? Lanjut??

5) “HASIL” dan “MENINGKATKAN HASIL”, layaknya proses colouring dalam proses diatas. Sebenarnya kita mampu untuk meningkatkan kemampuan kita dan menjadi pemenang. Pertanyaannya, ‘YES I WANT!’ atau ‘NO, THANK YOU!’. Hasilnya bisa lebih buruk, namun jika kita mampu maka hasilnya akan lebih cantik bukan?? Lihatlah hasil sketsa yang sudah diberikan warna..

Baiklah sekian dulu, filosofis ala erick azof..Semoga dapat bermanfaat😀 btw, yang ingin mencari tahu cara sketsa dengan menggunakan software Adobe Photoshop dapat klik di link berikut :

http://www.youtube.com/watch?v=k7rLRSNtB7I&feature=related&fb_source=message

Salam Sketsa!

2 thoughts on “Belajar dari Sebuah Sketsa

  1. Pingback: Refleksi 2012 « Erick Azof

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s