Cinta Pada Jumpa Pertama (CPJP) (1) – Cinta Pertamaku

Dear diary,

Hidupku dulu serasa di medan peperangan, antara hidup dan mati. Tidurpun tidak nyaman, ingin rasanya kembali keluarga. Apa daya, takdirku menuntunku ke medan peperangan ini. Bertahan hidup adalah satu-satunya cara untuk memperpanjang nafas namun juga memperpanjang penyiksaan batinku. PENAT dengan hidup ini. Hingga akhirnya Aku menyadari bahwa inilah rencana Tuhan untuk mempertemukan bidadari dari surganya ke pasar tradisional. Cinta Pada Jumpa Pertama.

Fulan,

Kota Metropolitan

Alkisah di kota metropolitan yang menyimpan sejuta pesona baik dari kemegahan hingga sampai kemiskinan. Apapun dapat menjadi komoditas yang menggiurkan banyak orang jika dapat menangkap peluang tersebut. Baik halal ataupun haram semua menjadi satu kesatuan layaknya masyarakat di kota metropolitan ini.

Fulan, pemuda dari kampung nun jauh disana merantau ke kota Metropolitan ini. Entah merantau atau terantau, karena dirinya sendiri tidak menyangka akan sampai disebuah kota yang megah. Ceritanya dulu dia diajak oleh kawan dari kampungnya yang bilang dirinya bekerja dengan seorang juragan sembako. Tergiur oleh cerita kawannya tersebut, akhirnya Fulan memutuskan untuk ikut. Akhirnya sampailah dia tinggal dibelakang bangunan megah yang tempat itu bernama pasar tradisional.

Cinta Pertamaku

Setelah beberapa bulan kemudian, Fulan akhirnya terbiasa hidup di Kota Metropolitan (pasar tradisional). Pekerjaannya sebagai tukang jagal membuat dirinya terkenal. Terkenal sebagai tukang jagal ayam tertampan di pasar tradisional tersebut. Pekerjaan ini juga menuntunnya kepada seorang wanita sawo matang berparas manis. Fatimah, nama wanita tersebut.

3 bulan yang lalu…

“Kau telah mengecewakankuuu kawan…katamu Kamu kerja di juragan sembako dan memiliki toko yang besar”, dengan nada kecewa Fulan mengungkapkan ke kawannya.
“Lahh, salahku apa? Inikan toko yang besaarr sekali bahkan lebih besar dari kampung kita, yaitu pasar tradisional! Aku ga bo’ong toh? Lagipula memang benar kita disini kerja di toko sembako yang cukup besar…”
“Yaaa, tapikann bukan begini maksudku…tinggal di pasar beratapkan kayu balok, bahkan terkadang harus tidur bersama hewan pengerat bernama tikus!”

Dirinya tidak menyangka hidup yang nyaman dan enak dikampung, berganti menjadi kehidupan keras kota Metropolitan (pasar tradisional). Setelah kejadian tersebut Fulan bertekad untuk menabung agar dapat kembali ke kampung. Namun tekadnya tersebut berubah seketika saat seorang wanita hadir dalam hidupnya.

Beberapa minggu kemudian…

Fulan akhirnya ditarik oleh juragan untuk menjadi tukang jagal ayam. Sebuah pekerjaan baru dan tentunya semakin membuat Fulan ingin segera pulang.

“Bang ayamnya berapa per ekor??”
“Per ekor ada yang 20 ribu, 23 ribu, 25 ribu…Tergantung neng maunya yang mana..”, jawab Fulan.
“Mmmm, ga kurang lagi bang? 17 ribu dapat ga bang?”, tawar wanita tersebut.
“Yaa ga bisa neng, ntar abang dipecat am bos kalau jual kemurahan..Neng mau ambil berapa?”
“Kurang dikit lagi deh bang, nanti Aku juga bisa dipecat ama bos ku..Aku dikasih duit pas2an..”
“Duh, neng gimana ya?”

Fulan berpikir sejenak untuk menentukan keputusan penting dalam hidupnya, KASIH atau TIDAK. Akhirnya dirinya luluh juga mungkin karena masih menyisakan kebaikan hati dari kampungnya. Beda dengan penjual kebanyakan sekarang kalau ditawar sedikit bilangnya, “Yaa kalau gak mau cari tempat lain aja!”

“JEBREEEKKKK!! BREEKK!!”, suara penjagalan ayam terdengar kencang.
“JEBREEEEEEEKKKK! Awwwwh!!”, mungkin karena berpikir tidak enak jari tangannya Fulan teriris oleh pisaunya sendiri.
“Kenapa Bang? Haduuh, abang gak hati-hati….Sini coba Aku lihat..”

Dalam seumur hidupnya si Fulan, hanya ada seorang wanita yang menyentuh dirinya, yaitu Ibunya.

“Gak apa-apa kan bang? Maaf, mungkin gara-gara Aku ya? Maaf….”
“Ohhh, gak apa-apa neng, abang yang salah…”

Kedipan pertama itu Rezeki

Kalau kata guru ngaji Fulan dikampung, kesempatan itu hanya sekali. Maksudnya jika kita melihat seorang wanita yang karena keanggunannya sangat menggoda cukuplah pada kedipan pertama saja dilihatnya, untuk kedipan selanjutnya lebih baik alihkan pandangan darinya karena dapat dibilang zina mata. Kali ini Fulan tidak dapat mengalihkan pandangannya ke eneng tersebut. Mungkin karena sudah lama tidak melihat wanita dengan jarak 30 cm. Begitu dekat, dekat dimata, dekat pula dihati.

“Maaf ya eneng, Abang jadi merepotkan..”
“Eneng yang harusnya minta maaf..”
“Nama abang, Fulan, nama eneng siapa?”
“Namaku Fatimah…”

-end

One thought on “Cinta Pada Jumpa Pertama (CPJP) (1) – Cinta Pertamaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s