Kisah Sang Maestro Seven Eleven (Sevel)

Dilihat dari judul diatas, sebagian besar orang terutama yang tinggal di Jakarta pasti sudah tidak asing lagi, Sevel atau biasa disebut dengan seven to eleven. Sebuah resto dengan konsep minimarket ataupun sebaliknya mini market dengan konsep resto. Apapun itu namanya, Sevel yang kita kenal kali ini sudah berjamur dimana-mana dan tentunya dengan ciri khas sebagai ‘tongkrongan’ anak muda.

Tulisanku kali ini merupakan kelanjutan cerita dari tulisanku sebelumnya “Kisah Pohon Berbuah”. Seperti yang kusebutkan bahwa kemarin aku menghadiri sebuah seminar dengan tema social entrepreneur dan creativepreneur. Sevel salah satu tamu yang diundang dalam acara ini dihadiri oleh direktur utamanya, Pak Henri Honoris. Nah, berikut aku coba ceritakan sharing pengetahuan yang diberikan oleh kita para audience.

Bisnis Keluarga

Pernahkah kalian dengar Fujifilm? Aku rasa hampir semua orang sudah tahu, khususnya teman2 kelahiran abad 20. Hehehe. Yah, ternyata Sevel dan Fujifilm masih saling berkaitan satu sama lain, yaitu bisnis yang dijalani oleh keluarga besar Pak Haris. Bisnis cetak film foto ini termasuk bisnis yang sangat laris di zamannya, namun setelah kelahiran kamera digital yang lebih canggih, maka jasa cuci cetak foto semakin lama semakin menurun. Inilah yang terjadi kepada Pak Henri, bahwa kenyataannya bisnis mereka tidak laku seperti sebelumnya, yaitu dari omset yang diterima 1 miliar lebih perbulannya hingga menjadi ratusan juta per bulannya.

Pak Henri sebagai penerus usaha keluarganya, memiliki peran penting didalam perubahan perusahaannya. Dengan segala upaya, beliau harus meyakinkan bahwa bisnis turun temurun ini dapat berkembang lebih pesat dengan menambah ide yang baru. Apa itu? Sevel, terlahir dari idenya yang melihat bahwa Indonesia khususnya Jakarta butuh tempat nongkrong yang lebih enak dan terjangkau.

“Kita Sevel cabang ke 17 setelah 16 tahun Sevel tidak membuka franchise…”, ungkap Pak Haris.

Zero to Hero

Aku menyebutnya from zero to hero kepada Pak Henri. Ada beberapa keputusan yang dilakukan sehingga keluarganya yakin bahwa perubahan jenis bisnis perusahaan keluarganya dapat meningkatkan perusahaan ke jenjang yang lebih baik. Faktanya :

1. Merubah konsep bisnis yang sama sekali tidak berkaitan atau hal yang baru untuk perusahaan sekelas Fuji Film adalah keputusan yang beresiko tapi Pak Haris berhasil meyakinkan keluarga dan mewujudkan keinginannya.

2. Butuh waktu 6 tahun agar Sevel dapat license dari Amerika, dan Pak Haris ulet dalam mencapainya. Sudah ratusan kali proposal untuk mendapatkan license Sevel dan telah ratusan kali juga kawabannya ditolak oleh Sevel. Alhasil, proses yang sangat begitu panjang tersebut terbayar sudah.

3. Bisnisnya baru berjalan selama 2 tahun dan saat ini sudah memiliki beberapa cabang yang sebagian besar di Jakarta. Saat inipun Pak Haris sebagai pemegang license akan mem-franchise kan Sevel nya.

4. Keputusan selanjutnya yaitu menggaet UKM Indonesia dengan cara menggunakan 100% bahan makanan lokal adalah salah satu tanggung jawab sosial yang dimilikinya.

Dalam seminar hari itu ada pertanyaan yang cukup menarik untuk kita simak, yaitu “Apa yang menyebabkan Pak Haris memilih Seven Eleven sebagai sebuah usaha franchise yang dapat berkembang pesat di kota Jakarta.

“Move or die..”, ucap beliau kepada kita semua. Pada intinya seorang entrepreneur sejati tahu apa yang harus dilakukan setelah dirinya terdesak dengan keterbatasan usahanya. Namun beliau juga mengatakan bahwa terkadang keterbatasan itu adalah cara bagaimana untuk bangkit lebih tinggi. Seperti yang dirinya dan keluarganya alami.

Remember my recent quote?

“Pohon itu tumbuh berbuah karena dia merasa terdesak akan mati, bukan karena dia disiram dan diberi pupuk…”

Yes, move or die…

5 thoughts on “Kisah Sang Maestro Seven Eleven (Sevel)

  1. hallo alumni, izin meninggalkan jejak ah di posting ini ya haha

    jadi analoginya “Pohon berbuah itu tumbuh karena dia merasa akan mati, bukan karena dia disiram dan dipupuk.” atau “pohon itu tumbuh berbuah karena ….”

    karena di posting sebelumnya kalau pohon berbuah itu tumbuh… jadi pohon berbuah tumbuh aja ga harus berbuah, misalnya berdaun atau sekedar tambah tinggi.
    sepertinya kata-kata yang pas yang di posting kali ini,, yaitu “pohon itu tumbuh berbuah….” jadi pohonnya menumbuhkan buah. hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s