Bintang Kejora

Tampaklah sebuah bintang kejora dilangit, sekilas, dibalik sebuah kaca yang menghalangi,  Fulan melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

“Ohh indah..bintang itu..dia datang dan pergi..terima kasih ya Allah karena memberikanku kesempatan untuk melihatnya meski hanya sekejap mata…”

Perjalanan yang panjang membawa Fulan bermalam disebuah kendaraan bernama bus antar provinsi. Tujuannya tidak lain karena ingin bertemu dengan kedua orangtuanya yang sudah lama tak bertemu Fulan semenjak dirinya merantau ke Jakerdah. Fulan berangkat bersama sahabat yang sama-sama berasal dari satu kampung, sebut saja Abu namanya.

Pagi, siang, malam berganti hari membuat Fulan lebih sering termenung dengan apa yang terjadi beberapa hari sebelum dirinya berangkat.

“Heeyy Fulan! Bengong saja kau dari tadi…terasa jalan sama patung saja diriku..”, ucap Abu.
“Hah? Maksudnya apa Bu? Aku tak ngerti maksud kau…”, balas Fulan.
Bah, bener kataku…pasti kau masih mengingat kejadian kemarin itu..tentang cewe kan!”
“Enak aja, emang hidupku hanya untuk mikirin cewe…sok tau kamu Bu!”

Bukan Fulan namanya jika dia suka sekali dengan merenung. Beberapa hari sebelum keberangkatan mereka ke kampung, Fulan berpamitan ke beberapa kerabatnya di pasar tempat Fulan bekerja. Tidak hanya sesama pedagang, kabar Fulan akan balik kampung terdengar hingga ke pelanggan setianya, Fatimah.

Beberapa hari sebelum keberangkatan

“Ehh eneng…”
“Ehhh abang…”
“Ketemu lagi nih kita..hehe”
“Yaa iya lah Bang, aku kan pelanggan setia abang kalau mau cari ayam..hehehe! Bang, ngomong-ngomong aku denger abang mau balik kampung ya?”, suara lembut keluar dari mulut Fatimah.
“Ya neng, abang lagi suntuk nih…kangen ama keluarga, dah lama gak liat ibuk ama bapak dikampung…”

Percakapan itu berakhir panjang. Fulan tanpa dia sadari, berucap, “Neng, besok ada waktu ga? Temenin abang cari oleh-oleh buat bapak ama ibuk ya..”. “Iyaa mau, aku bilang dulu dengan majikanku..”. Jawabnya singkat.

Keesokan harinya, Fatimah bersama temannya, Nur, menuju ke sebuah tempat pembelanjaan yang cukup besar di daerah Jakerdah  dengan Fulan yang sudah menunggu.

“Kenalin, ini temenku, Nur namanya..”
“Aku Nur, salam kenal..”
“Aku Fulan, salam kenal juga ya..Yaudah, yuk kita jalan!”

Sehari terasa begitu cepat, canda gurau membuat ketiga orang ini sangat menikmati wisata pembelanjaan oleh-olehnya Fulan. Beberapa bingkisan pakaian untuk bapak, ibuk, adik, dan saudara-saudaranya sudah didapatkan oleh Fulan. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari tempat makan terdekat..

“Makasih ya Fatimah, makasih ya Nur…”
“Sama-sama bang, kita juga makasih..jadi ditemenin jalan-jalan..”
“Benar-benar ga terasa..satu hari ini…”, timpal Fulan.
“Yaa mungkin ini memang sudah rejekinya Bang Fulan ditemenin kita..hehehee”
“Ya, rejekinya Abang, ditemenin yang cantik-cantik..hehehe”
“Aaaahh abang bisa ajeee…”, Ucap Fatimah dan Nur dengan tersipu malu..
“Yaa, Alhamdulillah aku bersyukur…aku bersyukur Allah memberikanku kesempatan untuk dapat berjalan bersama kalian meski satu hari saja…”, Ucap Fulan sambil menyantap hidangannya yang telah datang.

-end

2 thoughts on “Bintang Kejora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s