Kita itu berbeda

“Kita itu berbeda, jangan samakan diriku dengan dirimu, dirimu dengan dirinya..”.

Tulisan ini bukan tulisan galau, tapi monggo yang sedang galau baca tulisan ini..Hehehe. Sesuai dengan judul diatas, aku ingin menceritakan pengalamanku beberapa hari ini. Like miracle, Allah SWT ngasih case yang bikin aku lebih terbuka melihat seseorang.

“Rik..setiap orang punya rejekinya masing2, tugas kita menjemput rezeki kita..caranya? Ya dengan usaha lahir dan batin. Jadi gak usah khawatir kalau memang sudah berusaha tapi belum dapat yang terbaik. Yang khawatir kalau ga berusaha dan cuma berharap jatuh duit dari langit…”

Sepenggal nasihat diatas diungkap oleh temanku, memang saat ini secara status aku tidak lagi menjadi karyawan sebuah perusahaan, karena aku sendirilah yang menjadi owner, karyawan, tukangnya, atau apalah namanya. Ya, mungkin ada benarnya kata temanku, kita semua memiliki rejekinya masing-masing. Ada anak presdir sebuah perusahaan, karirnya begitu mengkilap dengan kuliah diluar negeri serta tinggal menunggu waktu menangani perusahaan orangtuanya. Ada juga anak dari supir angkot didesa terpencil, karena usahanya juga dia mendapatkan posisi yang cukup prestise di kota New York. Ada juga seorang anak yang berasal dari kampung terpencil, hingga akhirnya anak tersebut bisa menjadi motivator tingkat nasional.

Setiap orang punya kisahnya masing-masing. Right? Beberapa hari kemarin, aku mengikuti sebuah stand up comedy entrepreneur yang diadakan oleh IYE. Cukup membuka pikiranku dalam acara tersebut karena salah satu pembicaranya mengatakan bahwa setiap orang memiliki jalan sukses masing-masing.

“Kita itu berbeda, jangan berharap ingin menjadi Aburizal Bakrie, jangan berharap ingin menjadi Sandiago Uno, mereka punya kisah masing-masing. Tapi berdoalah menjadi diri sendiri yang berkualitas..”

“Apa sih entrepreneur? Yang saya tahu , gw ber-entrepreneur untuk nyaman dan tenang..”

Nah, entrepreneur sekalipun tidak ingin disamakan dengan orang lain. Hehehe. Terus apa yah yang membedakan nilai kita dengan nilai orang lain? Ya jawabannya ialah NIATnya.

Ada sebuah hadits yang cukup terkenal, berikut bunyinya :

عن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ – رضى الله عنه – قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar bin Khothob berkata : “Saya mendengar Rosululloh bersabda : “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang itu tergantung terhadap apa yang dia niatkan, maka barang siapa yang hijrohnya untuk Alloh dan Rosul Nya maka hijrohnya itu untuk Alloh dan Rosul Nya, dan barangsiapa yang hijrohnya untuk mendapatkan dunia maka dia akan mendapatkannya atau hijrohnya untuk seorang wanita maka dia akan menikahinya, maka hijrohnya itu tergantung pada apa yang dia hijroh untuknya.”

(HR. Bukhori 1, Muslim 1907)

Perbuatan itu tergantung pada niatnya

Nah, ada lagi sebuah cerita dari temanku, cukup menarik karena saat itu kita sedang membahas mengenai pernikahan. ^_^ (nahh, langsung melek serius bacanya ya? Hehehe).

Temanku menceritakan bahwa segala tindakan kita itu bernilai dengan indikatornya NIAT. Wah, sulit ya ? Ya iyalah..mungkin lisan bisa berkata A, namun hati kita berkata B. Yang tahu niat itu tentunya orang itu sendiri dengan Allah SWT. Maka sering kita ucapkan Wallahuallam, yang artinya Allah lah yang Maha Mengetahui. Karena sedekat apapun jarak kita dengan seseorang, tetap kita tidak bisa mengHAKIMI orang tersebut. Right?

Nah, temanku bercerita bahwa saat pasangan mengucapkan ijab qabul, maka arsy bergetar. Wah kenapa ya? Karena saat itu juga, seorang lelaki telah melakukan sebuah perjanjian yang sangat sakral kepada Allah SWT. Jika niat menikahnya buruk, misal hanya untuk dunia belaka maka hasilnya akan buruk pula. Tidak jarang kita lihat begitu mudahnya perceraian terjadi, begitu mudahnya kata “cerai” diucapkan (Aku tahunya dari temen2 yg suka lihat infotainment yaa :p). Untuk lebih jelas mengenai sakralnya sebuah pernikahan bisa klik disini.

Nah, kembali ke tema kita bahwa urusan niat bukanlah urusan kita, tapi urusan dirinya dengan Sang Pencipta. Jadi sayang sekali jika kita merasa sudah mengerti seseorang, loh? Padahal niatnya aja kita tidak tahu =.=”. Even untuk sebuah pekerjaan yang kita lakukan sama, namun proses dan hasilnya bisa berbeda, karena niat setiap orangpun berbeda pula, right? Jadi terimalah perbedaan itu🙂

Syukuri Sajoo

Sebagai penutup tulisan ini, Alhamdulillah, aku juga berkesempatan belajar dari obrolan singkat dengan temanku..berikut percakapannya..

“Rik enak ya kamu..”
“Enak kenapa??”,
“Ya enak, kamu bisa main hujan..Meski kemarin hujan deres, kamu fine aja bisa menikmati hujan..”
“Yaa sudah, main hujan aja..hehe!”
“Aku ga bisa main hujan, soalnya kalau kena hujan, aku sakit…”
“Hehehe, yaa tiap orang beda-beda, syukuri sajoo…mungkin kamu diberi oleh-Nya bukan fisik yang kuat, tapi hati yang kuat (tough)…”, ucapku.

-end.

5 thoughts on “Kita itu berbeda

  1. ada dua kata pamungkas disini yang gw suka banget rick, yang pertama: Karena sedekat apapun jarak kita dengan seseorang, tetap kita tidak bisa mengHAKIMI orang tersebut. Right?

    terus yang kedua:
    Jadi sayang sekali jika kita merasa sudah mengerti seseorang, loh? Padahal niatnya aja kita tidak tahu =.=”

    Nice writing rick🙂

  2. Pingback: Refleksi 2012 « Erick Azof

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s