Half Moon Half Heart (1)

Seperti biasa, aku berjalan bersama temanku menyusuri lorong panjang FISIP UI. Cuaca sangat cerah dan nyaman membuatku bangga atas kampus ini. Tidak semua kampus bisa senyaman ini, sempat beberapa kali aku berkunjung ke kampus-kampus yang lain dan rasanya sungguh melelahkan, dimana-mana orang hilir mudik dengan gedung-gedung yang tinggi siap menghadang.

Merto, nama temanku yang hampir setiap hari pergi bareng denganku kekampus. Bukan karena aku punya rasa suka atau gimana, tapi apa daya sejak kontrak apartemenku (asrama UI) selesai, maka aku harus mencari tempat tinggal yang baru. Alhamdulillah, Merto adalah teman satu kostanku yang sama-sama kuliah dan satu jurusan di FISIP UI.

Selanjutnya mengenai kampusku, satu hal yang aku sukai dari kampus ini, selain lingkungannya yang nyaman dipenuhi pepohonan, ada beberapa pemandangan yang menyegarkan mata ini. Tidak lain yaitu mahasiswi FISIP UI. Dikampus ini, mahasiswi-mahasiswi FISIP UI terkenal dengan keelokannya. Ya selain pandai berelok, otaknya juga kadang menyolok kita para pria yang secara umum tidak sepintar mereka.

“Bro, kita nongkrong dulu yee masih jam 7 nih..segarkan hati dan mata kita..hehe!”

Hahahaha, goud setuju ama lau broye…yawda, nanti jam 8 aja kita masuk kelas..”

Sebenarnya tidak banyak yang dikerjakan selama kami menunggu, hanya duduk dan menyapa beberapa teman yang kami kenal. Ya sok kenal sok dekat, supaya dikira anak gahul. Hehehe. Obrolan-obrolan gak penting keluar dari pembicaraan kami, dari sepak bola, main game, hingga membahas tentang peta perpolitikan Indonesia yang bikin kami gak jelas.

Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, akhirnya aku dan Merto memutuskan untuk berangkat menuju kelas. Mata kuliah Intervensi Mikro (IM) namanya, yaitu mata kuliah yang mengajarkan bagaimana kita bertindak menghadapi seorang klien. Benar-benar personal ilmunya, jadi terkadang aku menggunakan ilmu ini untuk dapat mengetahui perasaan seorang wanita.

Bro, ilmu IM berguna banget nih buat kita kalau mau PDKT am cewe..”, bisikku pelan-pelan ke teman sebelahku.

“Jiah..lu mah isinya pacaran mulu..apa-apa dikaitin ke cewe..”

Ya mungkin temanku cukup lelah mendengarkan guyonanku mengenai seorang wanita. Menurutku wanita ialah mahkluk yang langka dengan keindahan yang dimilikinya. Bukan otot, bukan kekuatan, namun dengan hatinya seorang pria yang tangguh sekalipun akan bertekuk lutut. Itulah kekuatan emosi yang tidak dimiliki oleh pria sekelas Ade Rai sekalipun.

Saat dikelas, ada studi kasus yang menarik dijelaskan oleh dosenku. Ia memberikan sebuah kasus apa yang harus dilakukan seorang social worker jika menghadapi seorang klien korban kekerasan. Spontan, aku menjawab bahwa kita harus mencari tahu apa penyebabnya dan menyelesaikan kasusnya sebagai tim bukan sebagai seorang yg serba bisa. Dalam diskusi tersebut banyak solusi yang ditawarkan dan dibahas satu-satu namun ada satu hal yang masih terbenam didalam kepalaku mengenai ucapan dosenku.

“Semua jawaban benar, dalam perspektif kalian masing-masing..Namun alangkah baiknya kita melihat dari perpektif klien…posisikan diri kalian sebagai mereka maka kalian akan mengerti apa yang lebih dibutuhkan…”

Spontan aku berfikir, apa maksud dari ucapan tersebut. Okesip, semakin lama dipikirin semakin memusingkan pikiran. Lupakan, sudahi, karena kelas IM sebentar lagi selesai dan bersiap untuk kekelas selanjutnya pikirku.

Wahh, akhirnya selesai juga! Siap bertempur di medan perang selanjutnya…”, ungkapan yang menghibur diri tersebut aku teriakkan kedalam benakku agar kelak di mata kuliah selanjutnya aku tidak kalah dengan rasa kantukku yang mulai datang. Di waktu senggang sebelum masuk kelas, aku bertemu dengan temanku yang kini menjadi pacarku, Reina, namanya.

“Eh tembem..hehe, nanti siang makan bareng yuk..!”

“Yaa gendut…nanti siang kita makan bareng…biasa ya ketemu di depan koperasi..”

“Sippp….”

Yaa so romantic bukan? Seremnya pacaran jaman sekarang memanggil sebutan sayang kepacarnya bukan dengan nama ‘honey’, ‘beybe’, ‘lovely’ atau sejenisnya. Namun lebih kepada sisi keunikannya ‘gendut’, ‘tembem’, ‘keriting’, ‘enyun’, dan sejenisnya. Cukup aneh ya? Ya kalau gak aneh bukan Indonesia namanya.

Waktu berjalan sungguhlah lambat, ingin rasanya menggunakan mesin waktu doraemon agar aku bisa melewati masa-masa yang menurutku ‘mengantukkan’. “Ohhh, kapan kuliah ini berakhir??”, sambil melihat jam tangan.

…..

Pertemuanku Pertemuannya

Akhirnya kuliahpun usai dan aku tidak mengulur waktu untuk segera bertemu dengan kekasihku.

“Ndut…aku mau ngomong sesuatu..”, pikirku mau ngomong aja koq pakai ijin segala.

“Yawda, ngomong aja..kenapa emangnya?”, jawabku singkat.

“Aku ngerasa aku banyak ganggu waktu kamu…Ya mungkin menurut kamu, aku berlebihan..Tapi dalam hati aku ngerasa ada yang kurang sreg..”

“Maksud kamu??”

“Ya kurang sreg maksudnya, hubungan kita kaya dipaksakan gitu…ya jadinya serba ga enak satu sama lain..”

“Gak enak gimana? Coba jelasin lebih dalam ke aku…”

“Yaa, maksudku lebih baik kita putus..”

“Salahku dimana? Aku tidak mengerti…”

“Yaa mungkin kamu mengerti jika kamu berada diposisiku..”

Lengkap, seakan waktu berhenti sesaat entah itu satu menit, dua menit, atau beberapa menit. Gak habis pikir, gak ada hujan, gak ada petir, gak ada apa-apa, tiba-tiba aku mendengar berita yang luar biasa ini dari orang yang aku kagumi, pacarku. Aku rasa pertemuan itu adalah pertemuan tersingkatku dengannya. Hanya beberapa menit, namun dampaknya bisa terasa hingga beberapa waktu kedepan. Satu kata yang terucap dari mulutku yaitu ‘Kenapa?’.

Pertanyaan itu terngiang-ngiang dibenakku hingga aku pulang kuliah. Semangat perangku berkurang drastis, ingin rasanya harakiri didepan dirinya namun apa daya melihat silet aja tubuhku sudah bergemetar. Merto yang melihat kelesuanku berupaya untuk menghibur dengan berbagai cara termasuk dengan celoteh nya yang bikin orang annoying sendiri.

Half moon half heart

Pada malam harinya, aku duduk termenung di kostan dengan hiasan bintang dilangit.

“Sudahlah boy…ambil hikmahnya…”

“Yaa mer…gw paham maksud lu..”

Boy, coba lihat tuh bulan..cantikkan??”, temanku mulai mengalihkan pembicaraan.

Iya, setengah bulan…cantik..”, balasku.

Mmm, tapi bakal lebih cantik lagi kalau full moon..”

“Ya itu menurutmu, tapi menurutku itu sama cantiknya..”

“Akuuu, bagaikan kehilangan separuh jiwaku…separuh hatiku…”, tiba-tiba diriku berkata seolah sedang melakukan monolog.

“Lohh? Kenapa? kalau begitu kamu sudah mati donkk!”, dengan polosnya Merto menimpali perkataanku.

“Kamu ga mengerti..kamu masih anak kecil..”

“Enakkk aja, gini-gini pengalamanku didunia percintaan tidak kalah hebatnya!”

Terdiam sejenak…

“Mmmm, Half heart….”

“Half heart? apa itu? setengah hati?”

Aku terdiam dan menarik nafas dalam-dalam kemudian melanjutkan perkataannya,

“Yaa, kamu bisa mengatakan bahwa hatinya setengah kosong atau hatinya setengah penuh…”

“Kasih tahu donk..apa maksudnya??”, dengan nada semakin penasaran..

“Artinya tidak semua putus cinta ialah hal yang buruk…mungkin itu cara Tuhan agar kita melihat sebuah kejadian dari sisi yang baiknya..Namun terkadang ada juga orang yang melihat dari sisi buruknya, yaitu Tuhan tidak memperkenankan dirinya bersatu kepada pujaan hatinya…”

“Akuu, makin tidak mengertii…..”, dengan nada bingung temanku menjawabnya.

“Hanya dengan melihat dengan sudut pandang yang sama, kamu bisa mengerti..”, jawab diriku.

3 thoughts on “Half Moon Half Heart (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s