Ikat Pinggang

Sudah menjadi keseharian bagi seorang kakek tua menawarkan tisu dari satu peron ke peron yang lain di salah satu stasiun besar di Jakarta. Hampir lima tahun lebih ia menjual tisu di stasiun. Kakek tua yang memiliki tatapan hangat  dengan wajah  teduh walau sebenarnya wajahnya sudah banyak dihiasi dengan garis-garis keriput yang terpaksa harus muncul seiring dengan kerentaannya. Sepertinya, kesulitan hidup tidak dengan mudah menghilangkan keteduhan mata dan kehangatan wajahnya, tidak seperti kebanyakan orang yang menjadikan tatapannya beringas ketika dihadapi dengan kesulitan hidup.
Kausnya yang kebesaran, sedikit menyamarkan badannya yang kurus.  Mudah mengenalinya melalui tampilannya karena  hanya tiga stel kaus dan celana gombrong dengan warna yang sudah memudar ia gunakan secara bergantian dalam seminggu. Kakek tua gemar berbincang dengan para penumpang kereta atau dengan sesama pedagang di dalam stasiun. Entah dari mana ia mendapatkan informasi, tetapi ia selalu memperbincangkan permasalahan dan isu terkini. Termasuk isu mengenai pemilihan pemimpin di Jakarta. Harapannya tidak muluk, hanya ingin pemimpin yang memberikan ruang dan kesempatan lebih banyak bagi orang –orang sepertinya untuk menjajakan dagangannya .
Suatu saat, keteduhan dan kehangatan hilang dari raut wajahnya. Kakek tua murung. Ia menawarkan dagangannya hanya dengan duduk di salah satu sudut stasiun. Melalui perbincangan seorang pedagang asongan dengan kakek tua itu, penyebab kemurungannya berasal dari hilangnya ikat pinggang milik si kakek tua ketika ia mandi di stasiun.
Sebesar itukah rasa kehilangannya hingga keteduhan lenyap dari wajahnya?. Selama inipun ikat pinggannya tertutupi oleh kausnya yang kebesaran sehingga bila hanya sekedar sebagai aksesoris, sudah hampir dapat dipastikan tidak. Mungkin, ikat pinggangnya pemberian seseorang yang spesial baginya hingga ia tak rela ikat pingganya hilang.
Lima hari kemudian, kakek tua berwajah teduh kembali menjajakan tisu di stasiun dengan gesitnya. Kakek tua sudah mendapatkan ikat pinggang murah meriah sebagai penggantinya. Ikat pinggang yang ia beli dari sesama pedagang asongan di stasiun. Mulanya, pedagang asongan ingin memberikan dagangannya secara cuma-cuma, tetapi kakek tua menolak. Ia tahu betapa berharganya nilai satu barang dagangan bagi orang-orang sepertinya. Iapun membelinya dengan banyak potongan harga dari si penjual.
Masih  belum jelas benar kenapa dulu ia sangat sedih ketika kehilangan ikat pinggannya , kembali dipastikan bukan karena pemberian seseorang yang spesial tentunya, karena barang tersebut pasti tak dapat tergantikan dengan mudahnya. Sampai suatu hari, tisu-tisu kakek tua  tidak banyak terjual. Uangnya pun hanya cukup untuk satu kali ia makan. Kakek tua menghela nafas, sambil bergumam pelan “hari ini harus kembali mengencangkan ikat pinggang”. Dibuka kausnya yang kebesaran, terlihat celana yang ia kenakan selama ini ternyata memiliki lingkar pinggang yang lebih besar dari ukuran pingganya. Kakek tua kemudian mengencangkan ikat pinggangnya hampir di ukuran terkecil dari ikat pinggang tersebut.
Selama ini, kakek tua banyak bergantung pada ikat pinggang. Bila ia tidak menggunakan ikat pinggang, ia tidak dapat menggunakan celana-celananya. Celana yang pada awalnya ia beli sudah sesuai dengan ukurannya, ternyata terus bertambah kebesaraan seiring dengan porsi makan yang terus berkurang dari hari ke hari. Perutnya semakin mengecil, apalagi ketika ia harus menahan lapar dalam waktu yang cukup lama. Ikat pinggang menjadi andalannya. Andalannya untuk berdamai dengan kelaparan.
Pada sudut lain dalam stasiun yang sama, ketika kakek mengencangkan ikat pinggangnya, di dalam salah satu retoran fast food ternama, seorang lelaki berkemeja terang dan bercelana bahan hitam tengah mengendurkan ikat pinggannya karena makan terlalu banyak. Lainnya lagi,  perempuan yang sedang sibuk memperbaiki ikat pinggang yang ia gunakan untuk aksesoris pelengkap pakaian kantornya. Ikat pinggang dengan model yang cantik. Mereka sama-sama berada dalam satu stasiun, sama-sama akan mencari uang dan sama-sama  menggunakan ikat pinggang. Mengenakan Ikat pinggang, benda sejenis seperti yang digunakan oleh kakek tua berwajah teduh, namun jelas dengan fungsinya yang berbeda.
Jakarta, 12 Oktober 2012

Arsetyanita puspitasari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s