Kebahagiaan dan Kesederhanaan

Kebahagiaan dan Kesederhanaan

“Kebahagiaan itu dihati, dihati yang bersyukur..”

Sepenggal kalimat dari broadcast message yang aku terima membuatku terenyak sebentar. Sungguh sederhana apa itu bahagia, yaitu dengan cara bersyukur. Kata, “Namun”, “Tetapi”, “Tapikan”, “Mmm..”, dan masih banyak lagi respon berbagai alasan jika kita dinasehati tentang “Bersyukur..”.

Apakah bersyukur itu sulit? Setiap orang punya jawaban masing-masing atas pertanyaan tersebut. Sedangkan menurutku, bersyukur itu perlu proses belajar. Dimana belajar itu sendiri ada levelnya, tahapnya, serta ada ujian kenaikannya. Levelnya sampai mana? Tidak ada batasnya (mungkin) hingga akhir kiamat. Hehe😉

Sayyidina ‘Ali Karamallaha wajhah pernah menyatakan, “Seseorang tidak akan merasakan manisnya kebahagiaan (sa’adah), sebelum dia merasakan pahitnya kesedihan (syaqawah).”

Menciptakan Kebahagiaan

Ada kisah yang cukup menarik, bagaimana menciptakan kebahagiaan dengan hanya merubah perspektif. Dalam Islam, hal ini yang disebut dengan Husnudzon (berbaik sangka). Memang tidak mudah serta merta melakukannya, namun seperti proses belajar. Husnudzon pun perlu dilatih, perlu belajar, hingga pada tahap ujian. Disini ada kisah yang cukup menarik dari Dr Frankl. berikut kisahnya :

Dr. Victor Frankl, seorang psikolog yang dikenal luas dengan metode logoterapinya memiliki cara sederhana untuk membantu para pasiennya. Alkisah, menurut penuturan Dr. Frankl, datan ke tempat praktiknya seorang laki-laki tua. Dari mimik muka dan bahasa tubuhnya, tampak bahwa dia sepertisedang berada dalam tekanan kesedihan yang luar biasa. Di hadapan Dr. Frankl dia bercerita bahwa istri yang amat disayanginya, yang telah menjadi pendamping hidupnya selama puluhan tahun, baru saja meninggalkannya. Akibatnya, saat ini dia merasa hidupnya sudah tak punya makna lagi. Selama ini, setiap kebahagiaan dan kesulitan dia bagi bersama istrinya. Tanpa istrinya, tak ada lagi yang bisa menjadi tempatnya berbagi. Kalau saja bisa, mau rasanya dia mati untuk menyusul istrinya.

Mendengar itu, Victor Frankl bertanya kepada laki-laki yang malang itu; “Coba Anda bayangkan, apa yang akan terjadi kalau istri Anda selalu bersama Anda, hingga Anda mati meninggalkannya? Memang Anda tak akan mengalami kesedihan luar biasa seperti yang Anda rasakan saat ini, tetapi kira-kira apa yang akan terjadi dengan istri Anda jika justru Anda yang lebih dulu meninggalkannya. Laki-laki itu terhenyak sambil berkata, “Jika itu yang terjadi maka istri sayalah yang akan menanggung kesedihan yang luar biasa karena saya tinggalkan.”. “Nah,” kata Frankl, “kematian istri Anda lebih dulu dari Anda, dan kesepian yang Anda rasakan sekarang sebagai akibatnya, sesungguhnya bermakna bahwa Anda telah menyelamatkan istri Anda dari mengalami kesedihan luar biasa seperti yang Anda rasakan sekarang.”

Mendengar dan merenungkan ucapan Dr. Frankl tersebut, tiba-tiba sebuah kesadaran baru merasuki laki-laki itu. Tiba-tiba saja ia sadar bahwa kesedihan yang dia rasakan sekarang memiliki makan positif yang tak terkira besarnya. Yakni, menyelamatkan istrinya dari kesedihan yang luar biasa kalau saja ia yang terlebih dahulu meninggalkannya. –end

Sebenarnya tidak ada perubahan yang riil terjadi pada lelaki itu sepulang dari Dr. Frankl. Namun Dr Frankl mencoba membawa laki-laki tersebut untuk merubah pandangannya menjadi sesuatu yang lebih bermakna positif. So, selamat berlatih menjadi individu yang bahagia dan sederhana🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s